tulus
The
Power of Love
( Septian Eka Pratiwi)
Pagi hari membuka nirwana yang kelam. Membelai
wajah wanita cantik yang tertidur pulam. Sesegera Humaira bergegas dari pulau kapuk untuk menuntut
ilmu. Dengan sepedanya membawa sebalok beban di pundaknya. Asanya yang tak henti-hentinya
menggebu siap memerangi setiap badai yang menghadang.
Seketika wajah gadis itu terpancar
keceriaan saat bertemu sosok yang tak lain adalah Laila. Salam hangat mengikat
persahabatan itu semakin erat. Bersiul-siul saling melengkapi diantara mereka. Menambahkan aroma hangat
suasana pondok pesantren yang mereka pijaki saat ini.
Laila mengajak Humira menuju masjid
untuk menunaikan sholat dhuha. Selesai mereka menghadap tuhan, mereka duduk bersandar di dinding putih teras
masjid. Mata Laila menatap kosong tak berkedip. Raut wajahnya diselubungi ribuan
rahasia. Melihat sahabatnya seperti itu, perlahan Humaira membelai lembut
tangannya mengharap sahabatnya akan mencurahkan beban diri.
“Ada apa Laila?” Sembirit pertanyaan
keluar dari mulut Ira.
Terbalaslah
dengan senyum lesu dari bibir tipisnya. “Tidak apa-apa Ra, yuk kita ke kelas,”
Mengalihkan rasa penasaran sahabat satu-satunya itu.
“Tidak
La. Ceritalah La barangkali aku bisa membantu jalan keluar dari masalahmu, atau
sekedar bisa meringankan beban dari pikiranmu aku bisa lega.”
Dia kenal betul dengan sosok wanita beparas manis itu. Telah lama mereka
bersama-sama dalam situasi apapun.
Laila
diam seribu bahasa. Mulutnnya semakin mengerut dan matanya masih tetap mau
menurunkan hujannya. Tetap saja, dia tak mau sahabatnya tahu tentang masalah
keluarganya. Laila adalah orang yang memikirkan matang-matang dengan setiap
ucapanya. Ira menyimpulkan kalau sahabatnya itu punya masalah begitu berat hingga
Laila tak mau orang lain tahu.
Waktu
terus berjalan, setelah Humaira telusuri tanpa sepengetahuan Laila. Ternyata
apa yang mengganjal di pikirannya terjawab sudah. Orang tua Laila akhir-akhir
ini bertengkar, dan mereka dengan cepatnya mengatakan pisah ranjang. Hati Laila
terasa teriris. Jiwanya seakan dimainkan oleh realita pahit ini. Sejak hari itu,
tak ada senyuman manis terpancar dari wajah Laila.
Segala
usaha Ira lakukan untuk mengembalikan
titik cerah di wajah sahabatnya itu. Hingga akhirnya Ira mengajak Laila
bermain ke rumahnya untuk melupakan perlahan tentang keluarganya.
Laila
dan Ira berjalan searah matahari menutup
ketampanannya. Sepanjang jalan sepedanya dituntun untuk tenggelam dalam nostalgia seindah
mungkin. Kebetulan rumah Ira tak jauh dari tempat mereka belajar.
Muncullah
Samsul dari dari istananya menyapa Humaira. “Humaira, sudah pulang?” Dengan
memasang wajah gembira menghampiri Ira dan Laila yang berhenti tiba-tiba.
Senyuman
manis menganga dari wajah Humaira. “Iya Kak Sam, Kak Sam mau kemana?”
Kebetulan
sore itu Samsul ingin bermain di rumah Ira. Terasa lama sekali tak bertemu Kakaknya
Ira, teman akrabnya. ”Ini siapa Ra?”
“Oya
Kak lupa aku, perkenalkan, ini Laila. Laila ini Kak Samsul.” mengenalkan
sobatnya dengan sosok lelaki berparas tampan itu.
Wajah
laila berubah seratus delapan puluh derajat setelah melihat Kak Samsul. Tak ada
air menanar di kelopak mata Laila. Rupanya sahabatnya itu sudah bangkit dari
keterpurukannya.
Mereka
bertiga berjalan bersama menuju kediaman Humaira. Di sepanjang jalan, mereka
tertawa bersama, membuang semua gejolak hitam yang ada di pikiran.
Sampai
juga di rumah Ira. Samsul dan Laila di persilahkan masuk. Sekelabat Ira
memanggil kakaknya di kamarnya. Ternyata kakaknya mengantarkan ibunya belanja
di minimarket.
”
Maaf Kak Samsul, kakak tidak ada.” Kata
Ira.
“O,
ya sudah kalau begitu, aku main aja sama kalian. aku juga masih kangen dengan
adikku ini” Menatap mata Ira dengan makna tak terucap.
___
Tak
terasa kebersamaan mereka mengantar pada senja malam. Laila berpamitan pulang.
Begitu juga Kak Samsul menyusul pamit.
Di
depan Rumah Ira, Kak Sam bertanya ke Laila. Dengan dirundung malu
menyingsingkan pertanyaan kepada putri bermata lenting itu.”Rumah kamu
jauh dari sini La?”
“Dekat
kok Kak. Sekitar blok tikungan dekat pesantren” jawab Laila dengan kebingaran di pelupuk wajahnya.
Walaupun ada rasa takut pulang sendiri waktu mau magrib seperti ini. Dia tak
mau merepotkan orang yang baru ia kenal itu.
“Wah,
lumayan jauh itu. Tidak baik juga perempuan bersepeda sendiri senja seperti ini.
Sudah mau malam lagi”
Samsul
dengan sepeda untanya mengantarkan bidadari itu sampai di depan rumahnya.
Laila
kembali menciut setelah ia mendengar orangtuanya mulai bergeram. Laila langsung
menuju ke kamarnya dan mulai membuka bayangan tentang Kak Samsul. Sosok yang
mampu menggali kembali gairah pada dirinya. Entah ada yang berbeda di matanya
dengan pemuda itu.
___
Malam
itu seperti mimpi terindah yang pernah dirasakan Laila. Bintang kerlip
menenangkan hatinya yang kelam dalam lara. Kepalanya tak henti-hentinya meminta
kepada langit dengan apa maksud yang ia rasakan kepada Samsul.
___
Suara
ayam menggugah nyenyak tidur pulas Humaira pagi itu. Segera Ira mempersiapkan
diri untuk berangkat ke sekolah.
Laila
dan Humaira bertemu di pelataran kelas. Seperti biasa, mereka bersalaman
dibarengi dengan senda gurau bumbu pelengkapnya.. Sekelebat Laila mengajukan
pertanyaan ditujukan pada lelaki yang tak asing di mata mereka. Dalam hati, Humaira
bertanya-tanya kenapa dia menanyakan tentang Kak Samsul.
Sejenak
Ira terdiam begitu lama. Kemudian terlontar perkataan dari mulutnya.
”Kak
Sam itu adalah kakak paling sempurna di mataku. Karena kata lembutnya bisa
menenangkan hati yang porak-poranda. Tak heran muncul kata-kata emas dari
mulutnya. Hingga banyak perempuan yang terpesona dengannya. Entah kenapa Kak Sam sampai saat ini belum
punya pacar juga,” Dengan pelan Ira menyampaikan kata demi kata penuh perasaan.
“Apa
kau juga begitu?” tanya Laila.
“Mana
mungkin aku suka sama dia. Seseorang yang aku anggap kakakku sendiri itu.”
Meski hatinya terasa belum rela mengatakan seperti itu.
“Dia
telah mengambil semua rasaku Ra, hingga aku jatuh hati dengannya.”
“Benarkah
La? Wah, ada yang menemukan cinta nih?” ledek Ira kepada Laila.
Senyum
lebar tercipta dari kalbu Laila.
“Sebenarnya
dia satu sekolah dengan kita,” singkat Ira.
“Benarkah
Ra? Bisakah kamu mengantarkanku bermain ke rumahnya sepulang sekolah? Kebetulan
sore nanti tidak ada kegiatan”. Terlihat betul, ada magnet tersendiri untuk Kak
Sam.
___
Disisi
lain, Kak Sam setia menunggu sosok yang ia dambakan selama ini. Begitu
sempurnanya hati Humaira hingga ia mengharap besar kepada Ira. Sejak kecil,
mereka bersama-sama. Tak heran juga kalau dia tahu semua tentang Ira .
___
Malam
membuka suasana dingin dengan angin berhembus sepoi. Laila mengirim pesan
singkat kepada Ira lewat Handphonenya.
“Assalamualaikum
Ira. Aku terasa diatas awan saat ini. Karena setelah kau kenalkan sosok tampan
itu, hati ini tak bisa membohongi jika aku menyimpan rasa istimewa dengannya.
Aku tak tahu cara yang tepat untuk mendapatkannya.
Aku tahu kau mengenal dia sejak kecil. Jadi bantulah aku untuk menaklukannya”
“Waalaikumsalam
La. Sungguh La?Aku juga ikut bahagia mendengar semua itu. Dengan segenap jiwa
aku akan membantumu untuk mendapatkannya La”. Dengan cepat
Ira membalasnya, meski ia harus memendam perasaannya dalam-dalam selama ini
kepada Samsul.
“Trimakasih
Ra, berharap dia menjadi pangeranku seutuhnya”
jawab Laila.
“Sama-sama
La, kita sudah lama bersahabat, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan
kepadaku” Singkat Ira menutup kebersamaanya lewat ponsel.
Pagi membuka cakrawala yang tak kan terpanah oleh kegelapan. Humaira
dengan buru-buru menemui Laila untuk mengabarinya kalau Samsul mengalami
kecelakaan pagi itu. Herannya dia tak muncul-muncul dari sisi gapura yang berdiri
kokoh di depan sekolahnya. Humaira langsung menuju Rumahnya, diapun tak ada di
rumah. Kepanikan membelenggu Ira. Telepon darinya tak diangkat oleh Laila.
Segera
ia menuju ke rumah sakit. Tempat Samsul di rawat.
Humaira kaget ketika melihat Laila berdiri di depan kamar Samsul. Laila berjalan
bolak-balik denga muka yang diaduk cemas dan gelisah. Sampai ia tidak tahu Ira ada di sampingnya. Tangan
Ira langsung meraih pundak Laila. Dan memanggilnya dengan nada tanya. Laila
langsung memeluk sobatnya itu.
“Ira,
Kak Sam. Ia dalam keadaan koma di dalam sana, dengan langsung ada mobil
menabrak Kak Sam yang bersepeda menuju sekolah. Dan mobil itu tak berhenti.
Alhamdulilah ada saksi mata yang mencatat nomor polisinya. Dan sekarang masih
di selidiki oleh polisi” sambungnya dengan panjang lebar.
“Astaghfirullah
Laila, bagaimana aku mengabari kakek neneknya? Aku takut kalau kondisi Kak Sam
ini membuat penyakit kakeknya kambuh,” kebingungan terpancar dari wajah Ira.
“Lha
trus orang tua Kak Sam kemana? Kenapa tidak langsung menghubungi mereka?”
“Maaf
La, aku belum cerita kalau orangtua Kak Sam sudah lebih dulu di panggil
Allah.”
Mendengar
itu. Tangis Laila semakin memuncak.
Mereka
duduk bersimpur di lorong, menunggu dokter keluar dari kamar rawat Samsul. Mata
mereka penuh harapan, mulut tak berhenti untuk berdoa.
Tiba-tiba
pintu kamar itu mengerit. Sosok berjas putih menghampiri mereka. Dan mengabari
kalau kondisi Samsul masih koma. Laila dan Humaira tak sanggup saat mengetahui
Sam mengalami amnesia.
Adzan
maghrib berkumandang, mengajak mereka segera menyelesaikan kewajibannya. Mereka
sholat bergantian agar Samsul ada yang menjaga. Selesai sholat, Humaira
menyuruh Laila pulang agar orang tuanya tidak cemas di rumah.
Hari
demi hari cepat berlalu, satu minggu Samsul tergeletak tak berdaya diatas
kasur. Kedua matanya tak kunjung
menyala. Ira terpaksa berbohong kepada kakek neneknya kalau Samsul pergi berkemah
seminggu ini. Ira dan Laila selalu menunggu kesadaran lelaki itu.
Mau
tak mau Ira harus mengabari kakek neneknya dengan penyampaian yang halus. Isak tangis
menyeruak di kamar Samsul. Suara lonceng
jam pun tak terdengar nyaringnya. Neneknya tak henti-hentinya menangis.
Sementara kakeknya hanya bisa melongok sedih. Ira dan Laila membawa mereka keluar dari kamar agar tidak
mengganggu kenyamanan pasien.
Satu bulan berlalu, tak ada perkembangan dari
kondisi Sam. Hingga menyiutkan gelora semangat sanak saudaranya untuk melihat
Samsul menyapa kembali. Sore itu, Laila dan Ira berdoa untuk kesadaran lelaki
yang mereka sayang. Perlahan mata mereka membasahi pipi.
Di kamar. Neneknya duduk di samping Sam
berbaring. Menampakkan wajah memelas dengan mata sayunya. Tiba- tiba jari Sam
mengutarakan kehidupannya. Perlahan mata
Sam terbuka. Neneknya melontarkan rasa syukur atas kesadaran cucu kesayangannya.
Langsung ia memanggil dokter untuk memeriksanya.
Mendengar
kondisi Samsul sadar. Laila dan Ira
langsung beranjak dari duduknya. Meski mereka tahu entah Samsul masih mengenal
mereka atau tidak karena amnesianya.
Satu pertanyaan muncul dari mulut Samsul.”Siapa
aku? Siapa kalian?”
Samsul seperti orang yang baru kenal
kehidupan. Kemudian semua orang yang ada di ruang itu dengan sabar
memperkenalkan diri masing-masing dan menjelaskan apa yang telah terjadi
padanya perlahan. Kondisinya masih begitu lemas.
Sampai detik itu, penyelidikan polisi kandas
tak ada ujungnya. Ira dan Laila sempat mencatat info yang di lihat saksi mata.
Mereka merencanakan untuk mencari kebenaran.
Setelah tiga hari Samsul bangun dari tidur
panjangnya. Kesehatannya semakin membaik dan bisa di bawa pulang. Sam senang
mendengar kalau ia bisa kembali aktivitas seperti biasa. Meski, ingatannya
belum kembali semua.
Keinginan Laila untuk mendapatkan Sam tak bisa
dilupakan. Laila sering menemui Sam di rumahnya, dan mereka semakin akrab
dengan bantuan dari Ira. Hari-hari Sam
semakin sering di temani Laila daripada Ira. Ira mengatakan kepada Sam kalau
sahabatnya itu telah jatuh cinta kepadanya. Dengan keberanian yang ia
kumpulkan, Ira meminta Sam untuk menjadi pacar sahabatnya. Karena, Ira tahu Sam
punya sedikit rasa juga.
Samsul
memikirkan perkataan yang terucap dari Ira. Samsul tidak tahu dengan perasaannya.
Namun ada signal lebih kuat dari pada Laila. Terlintas Humaira adalah bayangan
spesial dari masa lalunya. Dia tahu kalau Ira ingin sahabatnya bahagia. Hingga
Sam memutuskan untuk mengungkapkan perasaan kepada Laila.
Bunga-bunga bermekaran dari hati Laila. Membuka
hubungan yang istimewa dengan Sam adalah Mimpi terlalu tinggi bagi Laila. Berkat Ira, Laila bisa menjadi pacarnya Sam. Mereka menjalani
hari-hari dengan penuh gelombang kebahagiaan.
___
Tak
terasa bulan demi bulan mereka merajut cinta. Suatu ketika Sam dan Ira
berencana untuk bermain ke rumah Laila. Laila menyambut mereka dengan senang
hati. Ira tercengang ketika ada sebuah mobil berplat nomor yang tak asing di
benaknya. Seketika ia menahan keingintahuan tentang pemilik mobil itu.
Laila
mempersilahkan mereka ke dalam rumah layaknya tamu. Setelah berbincang lama,
Sam berjalan ke teras melihat pemandang
nan asli itu. Ira melontarkan pertanyaan berbisik tentang mobil itu.
“La,
itu mobil siapa?” tanya Ira.
“
Itu punya ayahku, aku tahu apa yang kau pertanyakan lagi. Iya. Ayahku sebulan
lalu menabrak orang. Dengan ketakutannya,
dia langsung menancap gasnya. Sampai di rumah sepulang dari rumah sakit. Aku
langsung kaget, ternyata yang menabrak Kak Sam itu adalah ayahku. Aku tidak mau
kehilangan kamu sama Kak Sam jika aku harus jujur dengan kenyataan ini. Hingga
saat ini aku belum mengatakan sebenarnya. Sampai pada akhirnya kamu tahu Ra” jawab
Laila panjang lebar.
“Astagfirullah
La, jadi selama ini kau menjaga rahasia ini. Kau tega dengan kita. Sebelum
sampai detik ini, kenapa ayahmu tak berkeinginan untuk sekedar menjenguk Kak
Sam. Sampai saat ini juga, kondisinya masih belum pulih betul” sambar Ira mengeluarkan
emosi kecewannya.
“Maafkan
aku Ra, aku tidak mau ayahku menghabiskan sisa umurnya di jeruji besi. Disisi lain,
aku sungguh mencintainya Ra. Aku takut kehilangan semuanya Ra.”
“Kenapa
kalian? Kok sepertinya ada masalah diantara kalian?” Putus perdebatan itu oleh
Sam.
“Tidak
apa Kak, Cuma masalah kecil kok. Biasa Kak” Ira langsung menangkapnya untuk
menutupi kenyataan yang pahit itu. Dengan senyum mirisnya menuturkan kata-kata
itu.
Sam
kembali ke teras. Ira bisa terima dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu.
Namun tidak mungkin keluarga Kak Sam bisa menerimanya. Sekelebat Sam mendengar percakapan
mereka. Dengan tiba-tiba ia masuk ke rumah dan bertanya.
“Apakah
semua itu benar? Apakah semua itu kau sembunyikan kepadaku La? Kenapa kau tak
jujur La?” sambar Sam dengan Nada meninggi. Sam tak bisa menerima kenyataan
itu. Langsung ia memutuskan hubungannya dengan Laila. Dan mengajak Ira buru-buru pulang.
Malam
itu begitu menyakitkan bagi Samsul. Tak ingin ia mengingat masa-masa bersama
dengan Laila. Hingga ia mengulas kembali perasaan kepada Ira yang kuat sampai
detik itu. Mungkinkah ia akan memaksa Ira untuk menjadi kekasihnya. Atau mungkinkah
ia harus menunggu sampai Ira siap.
____
Sebuah batu kecil membuat Samsul
jatuh tersungkur hingga terjadi benturan kuat di keningnya. Darah keluar deras
darinya. Melihatnya terkapar tak sadar, Ira langsung membawa Samsul ke rumah
sakit.
Disaat sadar. Ingatan Samsul
kembali pulih setelah lama hilang. Semakin kuat rasanya kepada Ira, ketika
sosok pertama yang ia ingat adalah Ira.
“ Aku sudah mengingat semuanya
Ra. Ternyata insting ini begitu kuat dengan seberapa besar cintaku untukmu. Aku
tak mau kau membohongi perasaanmu sendiri. Kakakmu sering cerita tentang
dirimu. Dan saat ini, menurutku adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan
kepadamu. Maukah kau menjadi pacarku ?” Samsul dengan lincah mengatakannya.
Kata-kata Samsul menjerat hati wanita di hadapannya itu.
“ Insyaallah Kak aku bersedia.
Semoga hubungan ini tak akan mudah terputus. Jujur aku mengharap Kakak menjadi pendamping
hidupku kelak. Entah apa yang terjadi esok dan yang akan datang kita juga tidak
tahu. Semua adalah rahasia allah.” jawab Ira bijaknya dengan wajah
berseri-seri. Kebahagiaan menggumpal dalam aliran nadi yang haus dengan cinta.
Samsul terkesimak mendengar
pernyataan dari Ira.”Benar Ra, tinggal kita yang menjalaninya. Kita cukup
berusaha dan berdoa” tambah Samsul dengan penuh harapan seperti Ira.
Sejak saat itu, mereka menyadari bahwa
kekuatan cinta tak kan ada yang mengalahkan. Meski akan terpisah oleh jarak dan waktu.
Komentar
Posting Komentar