Mekar Merunduk
Mekar Merunduk
“Lantas apalagi yang harus kulakukan lagi, Far?. Saya sudah pasrah” Ungkap Farah kala itu.
Begitulah kata si bunga desa semata wayang itu dengan sesenggukan. Matanya tak bisa mengungkapakan lagi dengan ekspresi sedangkan bibirnya pun tak bisa mengatakan apapun lagi setelah itu.
“Sabar, Silmi. Semua itu akan
indah pada waktunya. Mungkin saya adalah bagian dari tempat bercerita dan
mengetahui banyak cerita tentangmu. Semua yang kau lakukan sudah tidak salah.
Saya pun tidak juga menyalahkan orangtuamu agar kamu juga tetap disini. Semua
itu takdir, Sil. Dan kamu pasti bisa menjalaninya”. Tutur Farah.
Silmi masih
sesenggukan dengan keadaan rasa kecewa dan putus asa yang mulai
membentengi dirinya kembali untuk kesekian kalinya. Dia adalah satu-satunya
nasab dari keluarganya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan jika ia
menginginkan bersama dengan orang yang mempunyai kecocokan dengannya. Dalam
adat pernikahan Jawa, seorang wanita akan mengikuti laki-lakinya sebagi bentuk ketaatan dengan
sang suami. Dalam Islam pun juga dijelaskan bahwa seorang istri akan mengikuti
apa yang dikatakan oleh suami. Karena, dengan kata “qobiltu” yang sah tersebut
saat itu pula surga sang perempuan tersebut akan berganti dari orangtuanya
menjadi suaminya.
“Apa terakhir kali yang kau
lontarkan pada Fahad, Sil?. Hingga dia
memutuskan untuk tidak bersamamu. Padahal, kamu sudah bilang kepadanya pada
awal pertemuanmu dengannya soal keadaanmu ini, Sil”. Desak Farah dengan
memegang pundak Silmi.
“Sudah kubicarakan layaknya kita memiliki kontrak sebelum kita
menuju perbincangan serius itu dimulai. Bahkan, saya sudah menegaskan keyakinan
bahwa saya hanya sendiri disini dan harus menunggu kedua orangtuaku disini”. Jawab dengan tetesan
mata yang tetap mengalir bak sumber air yang mengalir deras.
“Karirmu, sekolahmu, prestasimu begitu
membanggakan. Jujur Sil, saya sangat iri akan semua atas pencapaianmu. tapi, kenapa
cerita romantismu sering bertepuk sebelah tangan?. Padahal, kamu bisa dikatakan
seorang wanita yang sempurna. Yang elok, indah untuk dimiliki. Percayalah,
keinginanmu di umur yang sedemikian ini,
kamu akan menemukannya.”
Dengan posisi Farah
sudah menikah, dia tetap selalu menyisikan waktunya dengan sahabatnya. Dia
adalah satu-satunya sahabat yang menjadi tumpuan dan tempat Silmi menceritakan
segala hal. Dia merasakan apa yang
dirasakan Farah. Dengan umur yang
semakin menua, sedangkan tantangan
menjadi anak tunggal adalah takdir yang harus dijalani oleh sahabatnya
ini. Yang bisa dilakukan adalah tetap memberikan segala hal yang bisa dilakukanya.
“Semua sudah kuserahkan. Dan, tak ada satupun rasa yang kuberi sedalam
seperti dulu kepada orang- orang yang
memiliki ketertarikan kepadaku. Semua yang kulakukan sekarang tak bernyawa.
Semuanya hilang dengan begitu mudah
dengan kenyataan yang telah terjadi. Kamu faham kan Far?!”. Tegas Silmi kepada
Farah.
Suara meninggi
itu mengagetkan Farah yang sudah mengenal cukup lama. Saat itu
pula Farah mengetahui sahabatnya sedang benar-benar tidak baik-baik saja. Sahabatnya itu pasti sudah tidak ingin
bermain rasa karena dengan kecewa yang sudah dirasa cukup sampai sini
saja. Rasa ingin mencari dari Silmi
membutakan dirinya untuk tetap terus mencari tanpa menyeimbangkan hubungannya dengan Allah. Farahpun selalu
mengingatkan Silmi yang masih tetap mencari dengan berkelabut menjaga.
Kawula
mung saderma, mobah mosik kersaning hyang sukmo. Kata-kata Jawa ini mewakili apa yang telah dihadapi Silmi. Silmi sudah melakukan
segala hal agar dia menemukan jodohnya yang tak kunjung datang.
Hingga akhirnya kekecewaan
mendatanginnya lagi untuk kesekian kalinya. Semua pada akhirnya yang
menentukan tuhan. Bagaimanapun juga, Silmi
pun tetap membutuhkan seseorang untuk mendengar. Karena, Silmi tahu bahwa Farah akan bisa membantunya
dalam keadaan apapun meskipun hanya untaian kata yang membait bisa menyirami
hatinya dikala dia membutuhkan dekapan.

Komentar
Posting Komentar