Cara Membuat Batik Tulis
Cara Membatik
![]() |
| tema-teman pelatihan |
Setelah dua bulan perpulangan dari
Kediri, saya mendapatkan informasi dari teman sekelas saya tentang pelatihan
membatik. Dan kalau gratis pasti aku
semangat berangkat. Aku langsung ke lokasi dan bertemu dengan
pemilik Lembaga pelatihan dan kependidikan. Beliaulah yang pertama ku kena di
tempat batik. Mbak Nana, itu lah nama panggilannya. Karena
sok sibuknya aku, aku sering
mengambil kelas sore ketika pelatihan batik. Aku sering sendiri membatik di
tempat LKP itu. Karena sore, aku sering
ditemani bu Nuning. Beliaulah ternyata pembatik asli Ponorogo. Tempat pelatihan ini dahulu terkenal dengan
daerah pembatik. Bahkan tidak heran jika bangunan rumah milik bu Nuning seperti rumah gedongan. Beliau bercerita
banyak tentang dunia batik dan perjalanan mengisi pelatihan batik dimana-mana.
![]() |
| saya bersama bu Nuning |
Rasa rasanya seperti privat pelatihan batik setiap sore
sambil bercerita panjang. Biasanya setelah saya
belajar membatik saya langsung ganti kostum mengisi les Bahasa inggris.
Ya, sambil belajar sambil mengamalkan ilmu yanga selama ini kudapat. Kadang ya,
suka nyesel soal ilmu selalu kurang. Makanya kudu belajar. Apalagi jadi calon
ibu itu harus multitalenta. (hahaha)
Oke kembali ke pelatihan batik. Oke. Kenapa
harus batik?. Karena batik setiap polanya mengandung arti. Setiap warnanya
mengandung arti. Maka dari itu, saya sebagai pewaris budaya harus mau
menguringuri( melestarikan) budaya.
Kesempatan kali ini, saya dapat mmebuat tissue, taplak dan kain baju
batik. Semua saya buat sendiri
berdasarkan arahan tutor. Tahap pertama pembuatan adalah mencuci kain dengan
bersih. Setelah kering. Tahap kedua bernama mola. Pada tahap mola ini aku menggambar langsung diatas kain yang akan
kubuat batik. Setelah selesai menggambar. Tahap ketiga adalah mencanting dengan
malam panas. Hati- hati ya jangan sampai tidak tembus karena akan mempengaruhi
hasil pewarnaan batik. Tahap ketiga adalah tahap nembok. Tahap ini untuk
memenuhi pola pada batik. Setelah
selesai mencanting kain batik, siap diawarna. Kali ini teknik mewarna yang aku
pakai adalah teknik colet. Hamper sama seperti mewarna pada gambaran di kertas.
Harus hati-hati. Selesai mewarnai. Pada
tahap selanjutnya adalah pemberian
waterglass. Tujuan dari waterglass adalah penguncian warna kedua setelah pencantingan. Setelah
agak kering, di tahap terakhir adalah pelorotan. Siap deh di rendam kain itu
dalam air yang sudah di rebus 100 derajat. Celup celup dan cuci di air dingin. Cuci seperti mencuci kain
sampai bekas malamnya bersih. Setelah
kain dirasa sudah bersih dari malam, kain
dijemur di tempat teduh. Diangin-anginkan. Dan, kain batik ready to
sell….
Dari batik, saya belajar kalem dan tlaten dalam
melakukan pekerjaan. Banyak kenangan yang saya dapat selama membuat batik.
Trimakasih LPK mawar Ponorogo.


Komentar
Posting Komentar