Mekar Merunduk
Mekar Merunduk “Lantas apalagi yang harus kulakukan lagi, Far?. Saya sudah pasrah” Ungkap Farah kala itu. Begitulah kata si bunga desa semata wayang itu dengan sesenggukan. Matanya tak bisa mengungkapakan lagi dengan ekspresi sedangkan bibirnya pun tak bisa mengatakan apapun lagi setelah itu. “Sabar, Silmi. Semua itu akan indah pada waktunya. Mungkin saya adalah bagian dari tempat bercerita dan mengetahui banyak cerita tentangmu. Semua yang kau lakukan sudah tidak salah. Saya pun tidak juga menyalahkan orangtuamu agar kamu juga tetap disini. Semua itu takdir, Sil. Dan kamu pasti bisa menjalaninya”. Tutur Farah. Silmi masih sesenggukan dengan keadaan rasa kecewa dan putus asa yang mulai membentengi dirinya kembali untuk kesekian kalinya. Dia...