AKULTURASI KEBUDAYAAN LARUNG SESAJI DALAM PERSPEKTIF NILAI SOSIOLOGIS AGAMA DI TELAGA NGEBEL PONOROGO
AKULTURASI KEBUDAYAAN LARUNG SESAJI DALAM PERSPEKTIF NILAI
SOSIOLOGIS AGAMA DI TELAGA NGEBEL PONOROGO
Oleh : Septian Eka Pratiwi
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kebudayaan
merupakan cara kehidupan masyarakat
dalam berbagai aspek kehidupan meliputi
cara-cara berlaku, kepercayaan, sikap dan juga hasil dari kegiatan
manusia yang khas untuk suatu masyarakat. Kebudayaan juga sebagai alat
konseptual untuk melakukan penafsiran dan analisis dalam sebuah kehidupan. Untuk itu, kebudayaan menjadi dalam kunci
penciptaan generasi yang unggul dalam membedakan mana yang menjadi tradisi ataupun kepercayaan yang harus dianut
dalam kehidupan masyarakatnya.
Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah
SWT untuk semua umat manusia telah memainkan perananya di dalam mengisi
kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Kehadiran Islam di tengah-tengah masyarakat
yang sudah memiliki budaya, ternyata membuat Islam dengan budaya setempat
mengalami akulturasi dan pada akhirnya tata pelaksanaan ajaran Islam sangat
beragam. Namun demikian, Al-Quran dan A-Sunnah sebagai sumber hukum Islam tetap
menjadi ujung tombak di dalam suatu masyarakat muslim, sehingga Islam begitu
Identik dengan keberagaman.
Al-Quran sebagai wahyu allah, dalam pandangan
dan keyakinan umat islam adalah sumber kebenaran dan mutlak benarnya. Meskipun
demikian, kebenaran mutlak itu tidak akan tampak mana kala al-Quran tidak
berinteraksi dengan realitas atau menurut quraish shihab, di bumikan: di baca,
di pahami, dan diamalkan. Ketika kebenaran mutlak disikapi oleh para pemeluknya
dengan latar belakang cultural atau
tingkat pengetahuan yang berbeda akan muncul kebenaran-kebenaran parsial,
sehingga kebenaran mutlak tetap milik
Tuhan.
Selain itu, bentuk islamisasi islam di
jawa masih bergantung pada kepercayaan
zaman dahulu yang notabene menuju pada ajaran Hindhu dan budha. Banyak rutinitan-rutinitas ibadah seperti di
Hindu dan budha yang membudaya dalam
Islam. Seperti acara slametan, genduren dan
banyak tradisi yang sudah mendarah daging dalam perealisasian agama
Islam.
Adapun dalam
budaya, mengandung beberapa unsur yang meliputi
kesenian dan religi( sistem kepercayaan)[1]. Oleh
karena itu kepercayaan akan semakin
kentalnya sebuah kepercayaan yang dianut
akan mengubah pola pikir masyarakat
dihubungkan dengan masa globalisasi yang
hebat ini.
Bentuk penyebaran di
Indonesia khususnya pula jawa menginduksikan berbagai pemberian hasil bumi
sebagai bukti syukur terhadap yang maha kuasa dan masih menjadi persoalan
apakah bentuk kepercayaan tersebut masih bisa dijadikan sebagi bentuk
pengamalan dan pendekatan terhadap Tuhan yang maha Esa.
Pada makalah ini,
penulis akan membahas tentang bentuk pendekatan kepada Tuhan yang maha Esa dihubungkan dengan kepercayaan masyarakat
yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam makalah ini penulis hanya akan membahas
tentang bagaimana bentuk akulturasi budaya yang tengah menjadi kepercayaan
ditengah masyarakat jika dilihat dari perspektif Islam. Dengan sejarah penyebaran agama di Indonesia yang masih kental dengan ajaran Hindhu Budha
bagaimana Islam menanggapi hal tersebut dengan sifat ajaran islam sendiri sangat fleksibel dalam
melihat kondisi masyarakat yang ada.
A.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian budaya dari pandangan para ahli dan
Al-Quran ?
2.
Bagaimana kebudayaan local indonesia dipandang menurut
Al-Quran?
3.
apa
saja kandungan Nilai Islam yang ada dalam kebudayaan Larung Sesaji?
4.
Apa
Pengaruh kebudayaan larung sejaji dalam tingkat kepercayaan terhadap tingkat
kepercayaan terhadap kebudyyaan tersebut?
B.
Tujuan Kepenulisan
1.
Untuk
menjelaskan pengertian budaya dari pandangan para ahli dan Al-Quran
2.
Untuk
menjelaskan Pandangan Al-Quran terhadap kebudayaan
3.
Untuk menjelaskan apa saja kandungan Nilai
Islam yang ada dalam kebudayaan Larung Sesaji.
4.
Untuk
menjelaskan Pengaruh kebudayaan larung sejaji dalam tingkat kepercayaan
terhadap tingkat kepercayaan terhadap kebudyyaan tersebut?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kebudayaan
Menurut
terminologi, kebudayaan diidentikan
dengan kata Millah yang betuk
jamaknya milal, terdapat dalam Al-Quran, yang digunakan untuk merujuk
kebudayaan yang berhubungan dengan syariat Nabi Ibrahim A.s. Millah
artinya adalah agama, syariah, hukum, dan cara beribadah. Millah seperti yang
disebutkan dalam Al-Quran maknanya ditujukan
uumat islam, atau golongan manusia suci, yang berpegang teguh kepada
agama Islam.[2]
Dari pengertian diatas, kebudayaan
merupakan salah satu bentuk cara beribadah dalam Islam. Dari adapun pengertian dari kebudayaan itu sendiri
berasal dari kata ummah. Istilah
ini mengandung makna sebagai orang-orang muslim dalam bentuk masyarakat
kolektif. Istilah ini yang pluralnya adalah umam dipergunakan dalam al
quran untuk menyebut umat islam. Sebagai umat yang baik.[3]
Taylor
mengemukakan bahwa kebudayaan adalah
keseluruhan kompleks, kesenian, moral, hukum dan kemampuan-kemampuan lainnya
serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.[4]
Menurut Ralp Plinton, kebudayaan adalah “ a
culture is the configurationas of learned behavior and results of behavior
whose components elements are shared and transmistted by the members of a
particular society”, pernyataan ini mengandung makna bahwasannya kebudayaab
atau budaya dianggapa sebagai milik khas dari manusia walaupun studi yang dilakukan kemudia tentang non
human primate. [5]
Endang
Saifudin Anshari[6],
Setelah mempelajari beberapa pandangan para ahli tentang pengertian kebudayaan
kemudian dia sampai rumusannya sendiri tentang kebudayaan yaitu bahwa
kebudayaan (kultur) adalah hasil karya cipta (pengolahanm pengarahan, terhadapa
alam oleh manusia) dengan kekuatan jiwa( pikiran, perasaan, kemauan, intuisi,
imajinasim dan fakultas-fakultas rohaniah lainnya) dan raganya, yang menyatakan
diri dalam berbagai kehidupan ( hidup rohaniah) dan penghidupan (hidup
jasmaniah) manusia, sebagai jawaban atas segala tantanganam tuntutan dan
dorongan dari intra diri manusia dan ekstra diri manusia, menuju kea rah
terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan( spiritual dan materiil) manusia,
baik inidividu maupun masyarakat ataupun undividu dan masyarakat.
B.
Kebudayaan menurut Kandungan Al Quran
Dalam surat al imron ayat 190-191 dijelaskan
bahwa islam menghormati akal manusia, meletakkan akal manusia pada tempat yang
terhormat dan menyuruh manusia memperguanakan akalnya untuk memerika dan
memikirkan dan memikirkan keadaan alam disamping dzikir kepada allah
penciptanya.[7]
Dalam ayat tersebut menkankan bahwa Islam sejak awal muncul di bumi mengajarkan akan cara
menghargai satu sama lain. Tidak ada keterpaksaan dalam melakukan segala
ibadahnya dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Sifat yang fleksibel di dalam
ajarannya memahami kondisi kehidupan suatu masyarakat.
Hal
ini pun terjadi di Indonesia, dimana Islam yang ada di Indonesia merupakan
hasil dari proses dakwah yang dilaksankan secara kultur sehingga Islam di
Indonesia, mampu berkembang dan menyebar serta banyak dianut masyarakat
Indonesia mampu masuk secara halus tanpa ada kekerasan. Hal ini berkat dari ajaran
Islam yang sangat menghargai akan pluralitas suatu masyarakat
Sepanjang sejarah umat islam, menurut surat Al-anbiya’ ayat 104 menyatakan
bahwa kebudayaan hanya mempunyai dua model yaitu membangun atau merusak. Kedua
model itu prinsip kebudayaan dalam pandangan Islam dan saling bergantian.
Selain itu prinsip kebudayaan dalam pandangan
Islam adalah adanya ruh (jiwa) di dalamnya dan ruh itu tidak lain adalah wahyu
Allah( Al- Quran menurut Sunnah Rasulnya), seperti yang telah dinyatakan di
dalam surat assyura’ ayat 52-53.[8]
Jika ruh kebudayaan adalah wajyu Allah, maka kebudayaan bergerak kea rah
kemajuan atau membangun. Dan sebaliknya jika ruh kebudayaan bukan berasal dari
wahyu Allah maka arah kebudayaan ialah merusak.[9]
C.
Kebudayaan Larung Sesaji di Telaga Ngebel Kabupaten Pononorogo
Menurut
kamus besar Bahasa Indonesia ritual merupakan hal yang berkenaan dengan ritus.
Ritus sendiri mempunyai pengertian tata
cara dalam upacara keagamaan. Dari keterangan tersebut diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa ritual atau hal yang yang berkaitan dengan ritus adalah suatu
cara dalam upaya- upaya keagamaan dimana
dalam bahasan kali ini upacara kejawen larung sesajen yang berlangsung di
Telaga Ngebel.
Melarungkan dalam kamus besar bahasa
Indonesia mempunyai arti menghanyutkna. Berdasarkan kata melarungkan dapat
diambil kata dasar arung yaitu larung
mempunyai makna hanyut. Larung sesaji dapat dapat diartikan menhanyutkna
sesaji yang berisi hasil bumi dilskuksn mempunyai tujuan sebagai ungkapan rasa
syukur terhadap Tuhan yang telahmemberi berkah kepada manusia serta memohon
perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan.[10]
Tujuan
diadakannya larung selain untuk meminta keselamatan, perlindungan dan rasa
syukur kepada Tuhan serta sebagai bentuk hormat kepada alam. Larung sesaji
dilihat dari model ritual dijalankannyam dalam ritual larung sesaji muncul jauh
sebelum Islam datang ke Ponorogo, khususnya Ngebel. Karena itu, tradisi ini
lahir dari agama asli penduduk setempat ( animism dan dinamisme) serta
terkuatkan tradisi oleh budaya yang diusung oleh agam hindu ataupun budha.
Sedangkan Islam datang ke Indonesia
khususnya di Jawa, pribumi telah memeluk agam Hindu ataupun budha.Berdasarkan
asumsi diatas, wajar ketika pada tahun 1997, Larung sesaji diubah karena
disinyalir sarat dengan muatan-muatan syirik menjadi Larung risalah yang
dimaksudkan agar sarat dengan
nuansa Islami.[11]
Hal ini dibuktikan dengan
penambahan dalam prosesi ritual Larung sesaji. Berikut adalah
prosesi selama ritual Larung Sesaji:
1.
Memandikan
Kambing Kendhit
Penggunaan kambing kendhit sebagai sarana
larung di karenakan kendhit ,merupakan suatu keistimewaan yang diberikan oleh
Tuhan YME dalam hal ini kambing.
2.
Penyemebelihan
Kambing Kendhit
Kambing kendhit di sembelih kemudia darah
kambing ditampung untuk dilarung.
3.
Melarungkan
Darah Kambing Kendhit
Darah kambing kendhit dilarung di telaga
sebagai simbolisasi darah adalah seperti halnya air telaga dan agar keistimewaann yang dipersembahkan
kepada sang Pencipta menjadi berkah.
4.
Tasyakuran
5.
Istighosah,
tahlil akbar dan khataman Al-quran
6.
Tirakat
7.
Membakar
kemenyan
Membakar kemenyan dengan maksud
memberitahukan kepada para arwah leluhur
bahwa ada yang datang untuk memohon restu dan keselamatan.
8.
penguburan
kepa dan kaki Kambing kendhit
Penguburan dengan dibungkus kain kafan
dimaksudkan mengistimewakan kambing khendhit dan dapat menyatu dengan bumi Ngebel sebagai pihak yang mmeinta
berkah.
9.
Larung
sesajen
Tumpeng dan hasil bumi dilarung dengan
maksud memberikan makan semua makhluk
yang diberikan selama ini
Ada delapan tumpeng atau gunungan dalam
pelaksanaan larung sesaji ini yang terdiri dari tumpeng agung yang akan
ditenggelamkan di tengah telaga ngebel berlokasi 25 km dari pusat kota Ponorogo
sementara tujuh tumpeng yang bernama
buceng purak yang berisi hasil bumi
dapat mendatangkan berkah. Warga mmempercayai bahwa tumpeng
buceng purak yang berisi hasil bumi
dapat mendatangkan berkah.[12]
Dari
prosesi yang ada dalam ritual larung
sesaji terdapat kejanggalan dalam perspektif Islam. Meskipun mayoritas dari
masyarakat Telaga Ngebel, kebudayaan ini
tetap menjadi perdebatan dalam perspektif Islam, hal Ini disebabkan bahwa
Ritual Larung sesaji ini masih dihubungkan dengan sebuah persembahan sesajen
kepada makhluk halus/ jin yang dianggap sebagai penunggu atau penguasa tempat
keramat tertentu adalah kebiasaan syirik( menyekutikan Allah SWT) yang sudah
berlangsung turun temurun di tengah masyarakat.
Berikut
adalah hukum sesajen dalam Islam dijelaskan dalam surat Al-Baqoroh ayat 73 :
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging
babi, dan sembelihan yang dipersembahkan
kepada selain Allah”
Ayat tersebut diperkuat dalam sebuah hadits dari Ali
bin Abi thalib r.a. bahwa
Rasulullah SAW bersabda bahwa “ allah
melaknat orang yang menyembelih (berkurban)untuk selain-Nya”[13]
Dalam persoalan Kebudayaan ritual Larung sesaji,
dilihat dari prosesi yang sekarang sudah berubah, seperti halnya penambahan bagian
acaranya yaitu mengadakan Istighosah
tahlil akbar dan khataman menjadikan kebudayaan ini menjadi kebudayaan Islam.
Hal ini dapat dilihat dengan pengertian kebudyaan Islam itu sendiri yang mana kebudayaan itu dikatakan kebudayaan
islam apabila mendasar pada nilai-nilai Islam[14]Selain
itu, ciri-ciri dalam kebudayaan Islam
sendiri adalah bersifat universal, terbuka dan mampu melewati semua
zaman, toleransi, serta integrasi dalam berbagai perbedaan yang alami dari
semula.[15]
Dalam
teori-teori diatas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan larungan sesaji sudah menjadi bagian dari kebudayaan Islam di
Ponorogo dengan menambakan nilai Islami
dalam pelaksanaan kebudayaan tersebut.
Bentuk akulturasi budaya dalam hal ini mengajarkan masyarakat bagaimana cara memaknai sebuah
kebudayaan yang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Bagaimana cara mencampur
kebudayaan dengan keadaan sosiologis
masyarakat sekitarnya menjadikan kebudayaan ini terjamin kelestariannya.
Dengan begitu,
sifat Islam yang lentur dan melihat bentuk sosiologis tidak melunturkan tatanan masyarakat dan
segala keunikan budaya yang sudah mendarah daging sejak zaman leluhur.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kebudayaan merupakan keseluruhan kompleks, kesenian, moral, hukum dan
kemampuan-kemampuan lainnya serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh manusia
sebagai anggota masyarakat.dalam kebudayaan islam banyak bagian-bagian yang di
dalamnnya masih melekat tentang ajaran agama Hindu dan budha. Dengan sifat islam yang halus dalam penyampaiannya
dan lentur dalam melihat kondisi
masyarakat yang ada, maka Islam memperbolehkan bentuk budaya seperti Larung
sesaji dengan syarat tidak bersifat
merusak dalam unsure budaya tersebut seperti yang dijelaskan dalam surat
Al-Anbiya ayat 104. Selain itu, dengan memasukkan nilai-nilai Islam dalam
pelaksanaan kebudayaan larungan sesaji
seperti acara istighosah,
khataman Al-Quran dan Tahlil
akbar menjadikan kebudayaan ini sebagai
alat dalam memerangi tantangan zaman
yang mengalami globalisasi saat
ini.
Berdasarkan fakta-fakta diatas, dapat disimpulkan bahwa
kebudayaan larung sesaji sebagai
warisan budaya leluhur merupakan
kebudayaan yang tidak menimbulkan kesyirikan
dengan mewujudkan bentuk
kesyukuran kepada Allah. Dengan memasukkan beberapa kegiatan keislaman dalam
acara kebudayaan ini menjadikan kebudayaan tersebut mengerti bentuk sosiologis masyarakat yang ada di
sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-quran dan
Terjemahan.
Istiqomah, Ega dan Jihan mega
Nirwana. Kebudayaan dalam Islam( Kajian Akulturasi Islam dan Budaya Jawa).
Malang: Universitas Brawijaya, 2014.
K Garna, Yudistira. Ilmu-ilmu Sosial: Dasar-Konsep-Posisi(
Bandung: Pascasarjana universiatas Pajajaran, 2001.
Mitanto dan Nurcahyo, Ritual Larung Sesaji Telaga
Ngebel Ponorogo ( Studi Historis dan Budaya),Vol. 02, No 02. IKIP PGRI
Madiun: Juli 2012..
Mujid dan Mudzakkir. Studi Islam:
Dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan. Jakarta: Kencana Predana Media Group,
2012.
Takari dan Fadli. Seni Budaya dalam Peradaban Islam: Kelestarian
dan Cabaran. Malaysia: Universiti of Malaya, 2007.
Saifuddin Anshari, Endang. Agama dan Kebudayaan. Surabaya: Bina
Ilmu, 1980.
Supena, Deden. Jurnal Islam dan
Budaya Lokal: Kajian terhadap Interelasi Islam dan Budaya, Vol.6, No. 19.
Jurnal Ilmu Dakwah, 2012.
Sukanto, Soerjono. Sosiologi
Suatu Pengantar. ( Jakarta: Grafindo Persada, 1990), 193.
http://surabaya.Tribunnews.com/2018/09/11/
larung-sesaji-dan
risalah-doa-di-telaga-ngebel-ponorogo-tutup-perhelatan-grebeg-suro-2018, diakses
pada tanggal 20 Oktober 2018.
http://
Muslim.or.id/ 4952-tumbal dan sesajen tradisi-syirik-warisan budaya-jahiliyah.
html. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2018.
http/wedhusgabak.blogspot.com/2018/03/filosofi-islam-dan-budaya-kejawen-
dalam. Html, diakses pada tanggal 19
Oktober 2018.
[1] Soerjano Sukanto, Sosiologi Suatu
Pengantar. ( Jakarta: Grafindo Persada, 1990), 193.
[2] Muhammad
Takari dan Fadlin, Seni Budaya dalam Peradaban Islam: Kelestarian dan
Cabaran( Malaysia: Universiti of Malaya, 2007).
[3] Ibid.
[4] Yudistira K Garna, Ilmu-ilmu Sosial: Dasar-Konsep-Posisi(
Bandung: Pascasarjana universiatas Pajajaran, 2001), 157.
[5] Deden Supena. Jurnal
Islam dan Budaya Lokal: Kajian terhadap Interelasi Islam dan Budaya, Vol.6,
No. 19( Jurnal Ilmu Dakwah, 2012)105.
[6] Endang
Saifuddin anshari, Agama dan Kebudayaan,( Surabaya: Bina Ilmu, 1980, hlm
32.
[7] Muhaimin,
Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir. Studi Islam: Dalam Ragam Dimensi dan
Pendekatan, (Jakarta: Kencana Predana Media Group, 2012),hlm 336.
[8] Al-Quran dan Terjemah.
[9] Istiqomah, Ega
dan Jihan mega Nirwana, Kebudayaan dalam Islam( Kajian Akulturasi Islam dan
Budaya Jawa), ( Malang: Universitas Brawijaya, 2014).
[10] Maulana Mitanto dan Abraham Nurcahyo, Ritual
Larung Sesaji Telaga Ngebel Ponorogo ( Studi Historis dan Budaya),Vol. 02, No
02( IKIP PGRI Madiun: Juli 2012), hlm.38-39.
[11] http/wedhusgabak.blogspot.com/2018/03/filosofi-islam-dan-budaya-kejawen-
dalam.html, diakses pada
tanggal 19 Oktober 2018.
[12] http://surabaya.Tribunnews.com/2018/09/11/ larung-sesaji-dan
risalah-doa-di-telaga-ngebel-ponorogo-tutup-perhelatan-grebeg-suro-2018, diakses pada
tanggal 20 Oktober 2018.
[13] http://
Muslim.or.id/ 4952-tumbal dan sesajen tradisi-syirik-warisan budaya-jahiliyah. html.
Diakses pada tanggal 20 Oktober 2018.
[14]
Istiqomah, Ega
dan Jihan mega Nirwana, Kebudayaan dalam Islam( Kajian Akulturasi Islam dan
Budaya Jawa), ( Malang: Universitas Brawijaya, 2014).
[15]
Muhaimin, Abdul
Mujid dan Jusuf Mudzakkir. Studi Islam: Dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan,
(Jakarta: Kencana Predana Media Group, 2012),Hlm 336.
Komentar
Posting Komentar