Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

santri dan cita-cita

Menjemput Lillah        Terkadang apa yang kita inginkan tidak selalu dikabulkan oleh Allah. oleh karena itu, kita sebagai hambanya tidak boleh menaruhkan harapan besar lebih dari harapan yang kita berikan kepada Allah.  setelah menyelesaikan program sarjanaku, aku mempunyai keinginan untuk melanjutkan ke negara impian, Malaysia. dengan segala tekadku aku selesaikan skripsiku untuk segera mengambil liburan dan pergi ke Malaysia.           Ternyata rencanaku tak semanis dengan mimpiku. aku diharuskan untuk  istirahat di rumah sakit satu minggu hanya karena tipus dan demam berdarah. aku putuskan untuk mencari beasiswa ke luar negeri dengan menjadi TKW di Singapura dua tahun. ya, namanya restu orangtua sangat penting  .makanya aku mengurungkan berangkat ke negeri lion itu.   Atas seizin orangtua, aku mencoba mengikhlaskan untuk tidak apply beasiswa ke foreign. aku mencoba memahami d...
Agustus, 2017   aku  ditempatkan mengabdi masayakat di dukuh Dilem Desa Karangan.  aku menemukan wajah-wajah baru yang begitu menarik hati untuk mengenal lebih jauh. senyum sapa mereka menyambut kami yang baru datang dari perkotaan.  untung saja kami cepat beradaptasi denganmasayakat dan bisa membantu kesulitan yang ada di masyarakat.   aku selalu membantu mereka dalam mengenal kebudayaan islam yang ditinggalkan  dan perlu dilestarikan.   aku mengajak masyarakat untuk belajar bersholawat berjanzen dan mengadakan khataman setiap 2 minggu sekali.   awalnya aku kaget dengan kondisi masyarakat yang sangan berbeda dengan rumahku. padahal dilihat dari segi geografisnya. letak rumahku sangat berdekatan dengan kecamatan ini. tidak heran keseharian yang kutemui di dukuh ini sama dengan yang kulakukan di rumah.  selain membantu kesulitan masyarakat yang ada, aku juga mengorek  sekelebat tentang sejarah dilem.  ternyata ...

secarik cerita santri

Relung   Sendung desa Santri :   Bentuk Pluralisme kelompok Masyarakat Oleh : Septian Eka Pratiwi Masa Kecil Dulu, banyak orang Indonesia merantau ke Malaysia   untuk memakmurkan kehidupan keluarganya .   Mereka beranggapan jika merantau maka akan mendapat uang ringgit yang kurs-nya cukup tinggi ditukar ke nilai rupiah waktu itu. Ibuku adalah salah satu orang yang mempunyai gelar sarjana muda dari ribuan pekerja Indonesia di Malaysia. Ia memutuskan untuk pergi ke Malaysia agar dapat membantu nenek menafkahi   saudara-saudaranya yang masih sekolah.   Sampai 4 tahun kemudian, ibuku   dan ayahku yang   asli dari Tulungagung menikah di tempat perantauan. Satu tahun lebih setelah pernikahan   tepat tanggal 11 September 1996   aku lahir dengan umur 7 bulan dalam kandungan. Oleh   karena itu, aku terlihat kuat dan sempurna dari fisik tapi fisik dalamku tak sekuat teman lainnya . Kala itu   ayahku   sibuk dengan bisnis...