purple
Coklat Pahit
Ting ting ting suara bel sepeda sudah ramai didepan rumahku. Aku
terbangun dan bergegas untuk bebenah
diri ke sekolah. Kubiarakan semua
pemandangan buruk dalam kamar yang tak sempat ku sapa halus pagi itu.
“Bunga, ayo cepat, udah telat nih” . suara Riska melenting tinggi bak suara terompet kereta
api. Kulangkahkan kaki dengan tenaga kuda yang masih baru kuisi.
“ Ayo, Bunga sudah siap”.
Senyum manisku
berusaha menyirami wajah Riska yang sudah memerah. Canda tawaku tak sedikitpun
menyentil senyum Rizka yang tenggelam karena geram. Hingga akhirnya dia tertawa ketika aku
terjatuh karena menghindari segerombol bebek yang melintas.
“Sakit tau Riz“ ucapku bak singa menerkam mangsanya sambil
membersihkan kotoran yang menempel.
“ Cepet berdiri!!!. Kita udah telat banget”
“ iya ya…, ayokk”. Dengan wajahku yang gugup aku langsung menancap
sepeda.
Pak mister adalah sosok guru yang sangat menakutkan. Dengan
rambutnya yang jarang dan matanya yang
besar membuat kita mati gaya ketika kita ditatapnya. Murid-muridnya yang diajar
langsung merinding ketika mereka mendengar suara ketukan sepatu pak Mister yang
berjalan.
Kayuhan kita semakin cepat ketika bayangan pak mister
terngiang-ngaing dalam benak kita
Ciiiiiiitt, kita langsung menuju kelas kita. Terlihat badan kekar
pak mister sudah berdiri mengajar di kelas sembari menulis di papan tulis.
“ Kenapa telat?”. Mata Pak Mister mulai melotot dan kakiknya mulai
berketak-ketok tak jelas.
“ Mmmaaf pak…”
“ Tidak usah ikut pelajaran!!!, sekarang bersihkan teras di sekolah ini!!!”
“ Semuanya pak?….” Tanya Riska dengan melihat mata pak mister.
“ Atau mau tambah lagi”. Darah
pak Mister semakin tinggi.
“ii.. iya pak”. Bibir ini terasa bergetar ktika berusaha untuk
menjawabnya.
Kita menuju tempat perabot kebersihan berkumpul. Sapu dan cikrak
adalah makanan sehari-hari dengan alasan yang sama yaitu telat. Kita bisa disebut salah satu petugas cleaning
sekolah yang tak terbayar. Setiap pagi kita disuruh bersih-bersih sampai
jam Sembilan. Banyak yang bilang kalau kita terlalu setia mengabdi untuk
sekolah ini. Sampai pihak sekolah saja angkat tangan dengan kesalahan kita yang
terulang terus menerus.
Sekolah kita termasuk sekolah yang ngehits tentang perayaan besar.
Sekolah kita juga update tentang perkembangan fashion setiap waktu. Hingga pada
waktunya hari valentine akan datang. Hari terkenal dengan menyebarnya virus-virus
kasih sayang. Hari yang sangat ditunggu-tunggu dengan persiapan yang begitu
besar pula. Anggota OSIS sudah
mengumumkan kalau akan ada event untuk merayakannya. Dan hari nanti sepulang sekolah seluruh siswa
berkumpul dilapangan untuk mencari
Aku dan Rindang sebenarnya tidak suka jika dibilang soal percintaan.
Kita memahami jika
valentine bukan budaya agama kita. dan
ketika mereka merayakan hari itu, kita sering menyibukkan dengan hal-hal
positif lainya. Memang benar sih kalo sekolah ini adalah sekolah umum.murid-muridnya bukan
hanya datang dari satu atau dua agama melainkan semua macam agama. Hingga kita tahu bagaimana kita menyikapi
akan hal itu.
Diam-diam ada yang menyukai
Rindang . Setiap hari ada gambar wajah Rindang di laci Rindang. Aku pun
bertanya-tanya siapa yang menyukai sahabatku ini. Aku mulai berpikiran tentang
apa yang disukai pada diri Rindang. Mungkin karena dia suka berlaku bijak
ketika berdiskusi di organisasi atau bahkan dia sangar kalau marahnya kumat.
Hahaha. Tak heran si Rindang membuat
tempat khusus untuk mengumpulkan karya dari sang pengagumnya.
“ Rin, banyak banget gambarnya, udah ngumpul berapa lusin ni”
Sapaku sambil ketawa.
“ Hahaha kamu ya,. Nih banyak banget. Mana bagus-bagus. Kan juga
kasihan kalo dibuang. Lumayan buat koleksi”
“ Coba aja aku jadi kamu Rin, bakal aku cari dia. Aku selidiki
dia.”. mataku melirik lucu.
“ Apaan sih, biarin dia puas Bung, aku suka kok digambarin seperti ini”
Kriiing kring kring kringggggggg. suara bel pulang sekolah .Tapi hari itu siswa-siswa tidak langsung pulang karena
ada pembacaan acara dalam perayaan valentine. Yoga ketua OSIS berjalan lewat
didepan aku dan Rindang. Aku langsung menyapa Yoga dengan senyuman. Tapi
berbeda dengan Rindang yang selalu sewot karena setiap kajian OSIS dia selalu berdebat dengan Yoga.
“Yog, maaf ya, kami besok tidak dating…”
“ Loh, kenapa?”
“ Mungkin kalo kita datang ,
kita di kantin. Tidak ikut merayakan event ini”. Rindang menyenggol aku saat
aku bilang seperti itu.
“Oh, iya . tidak papa. Yang penting datang ya!!.”
Yoga langsung menuju dekat paggung yang sudah disiapkan.
“ Kenapa kamu ngomong sama
yoga gitu?”, Rindang sewot.
“ Kan Cuma izin.
Bagaimanapun kan kita masih anggota dia.”
“Iya, tapi dia kan tahu kalo kita tidak pernah merayakan
valentine.”
“ Iya tidak apa-apa Rin. Kalau benci jangan terlalu . biasanya jadi
lebih lhoo”
“ Apaan siih Bunga ini…”.
Rindang bergegas pergi meninggalkan
Bunga.
Keesokan harinya dengan krudung merahnya Rindang menjemput Bunga
yang masih repot dengan dandanannya. Kring kring kring,,,,
“bungaaaaaa”
“iya Rin, bentar ya”
Rasa-rasanya aneh sekali untuk hari ini. Pertama kalinya kita
berusaha untuk netral dengan teman lainnya. Kita langsung menuju ke kantin dan
membantu ibu kantin berbenah mempersiapkan apa yang akan dijual.
Dengan kerja payah kita berdua, ibu kantin suka memberikan pesangon
untuk jajan. Tapi kita selalu menolak pemberiannya. Disela-sela kita istirahat.
Aku bilang sama Rindang kalau selama ini yang melukis dia bisa jadi Yoga.
“ Rin, jangan-jangan Yoga yang gambar kamu setiap hari itu”
“ Ah, kamu kok kepo aja siapa penggemarku. Biarin lah bung,. Ntar capek
sendiri”
Suara mikrofon itu tiba-tiba terdiam sunyi. Kemudian terdengar lagi
dengan suara Yoga yang jadi MC di acara itu. Yoga bilang kalo ada yang mau
ngungkapin rasa untuk perayaan tahun
ini. Saat itu kita berjalan menuju ke
laci meja. Mencari gambar yang dibuat penggemarnya Rindang. Ternyata
yang ada pada laci adalah coklat dan gambar special untuknya. Gambar wajah dan bunga yang ada disampingnya.
Suara Yoga melejit lagi dalam event itu. Mungkin dia hanya sekedar
mencari perhatian ditengah para penonton. Ternyata acara yang special di event ini akan dimulai.
Ya, ungkapan rasa anak Spesial. Orang itu tak mau menyebut namanya. Dan menyebut nama Rindang dengan penuh rasa.
“Rin, siapa itu Rin…”
“ Mungkin dia Yoga”
“Bukan Rin, ayok kita lihat ke panggung”
Aku langsung menggeret
tangan rindang yang tak mau berjalan. Dan disaat itulah semua pertanyaan
tentang penggemar itu terjawab. Ya, dia adalah gitaris nasyid di sekolah kita,
Arda. Banyak yang kagum dengan gitaris
ini karena sifatnya yang begitu terpuji.
Dan pastinya dengan kewibawaanya membuat pengagumnya enggan mendekatinya.
Tak disangka seorang Arda
menyukai Rindang. Aku dan Rindang
kayaknya tidak pernah bertemu dalam
waktu yang sama. Tapi ternyata dia diam-diam mengamati kita. terutama si
Rindang.
Coklat dan gambarnya masih
ditangan Rindang. Rindang berpikiran kalo coklat ini adalah buah dari perayaan
Valentine ini. Dan gambar yang Arda
gambar ini adalah Rindang beraura bahagia.
Sayang arti kebahagiaan itu tak sama seperti yang Rindang artikan.
Dengan cepat Rindang
langsung membuang coklat dan gambar itu.. Dia tidak suka percintaan. Dia hanya
ingin menikmati masa-masa remajanya tanpa percintaan. Rindang tahu kalau Arda adalah tipe lelaki yang
ia cari. Dan baginya mengagumi dan diam adalah cara yang terbaik untuk
menyikapinya.
Suasana itu sangat runyam.
Rindang langsung berlari ke parkiran
sedangkan Arda menyusulnya. Aku menghentikan Arda dan mengajak dia duduk di
depan teras. Aku bilang kalau si Rindang butuh waktu untuk menenangkan dirinya.
“Maaf, Arda. Sebenarnya Rindang itu suka sama kamu. Tapi karena dia
punya komitmen kalau dia enggak mau pacaran. maka dia hanya diam dan tidak terkesan suka dengan
kamu. Awalnya kita tidak akan datang dengan acara ini. Karen kita anggota
OSIS, kita datang membantu ibu kantin
karena merasa tidak enak dengan anggota lainnya”.
“ jadi, dia kecewa sama aku?”
“ bukan begitu da, ada baikknya rasa itu simpan aja. Dan ungkapkan
lagi ketika dia sudah siap. Aku yakin
kok. Kamu bakal dapetin dia”
“ Iya Bung, Makasih atas tegurannya”
“Iya, makasih juga atas pengertianya, aku nyusul Rindang dulu ya”.
“ Oh iya, Bung, tolong sampaikan maafku kepada Rindang”.
“Siap Ar”.
Ketika aku mencari keberadaan
Rindang di lokasi parkir. Ternyata Rindang duduk di taman dekat
parkiran.
“ Rindang...” aku berlari mendekatinya.
“ Aku tidak suka cara Arda
bung, memang benar kalau aku punya rasa yang sama tapi aku tidak mau
untuk lebih dari teman”
“ Ia Rin, tadi aku udah jelasin kok ke Arda. Sudahlah. Dia hanya
ingin dari sahabat. Dia tadi juga mau
minta maaf tapi aku larang. Karna aku tahu kamu sangat terpukul dengan tadi”
“ Trimakasih Bung, “
Disisi lain Arda mulai menyadari
kalau dia memang salah. Dan disaat itulah dia mengetahui jika untuk
mendapatkan coklat yang manis itu butuh pengertian dan pengelolaan bukan dengan
keteledoran yang kecil mengubah citra
rasa coklat menjadi pahit.
Beberapa hari kemudian kehidupanku dan Rindang berjalan seperti
biasa. Melakukan kekonyolan dan canda tawa meskipun terkadang Rindang masih
susah tuk melupakan kejadian itu.Sedangkan Arda menyibukkkan diri dengan grup
Nasyidnya yang kono critanya akan membuat album.
Komentar
Posting Komentar