Postingan

2025: Di Akhir Cerita Penuh Kata ─ Ngunduh Wohing Pakerti

Gambar
  Ini adalah konferensi  kelimaku  yang menurutku sangat damai dengan angin semilir di pojok rumah oriented Jawa─Joglo.  Bisa presentasi  di rumah itu rasanya enak sekali ─ segar dan tenang. Selain aku menyukai menulis, aku  juga berharap suatu hari nanti tulisan-tulisan yang sudah kutulis akan memberikan cerita tersendiri bagiku dan bagi orang yang membaca ─ syukur-syukur. Rasa syukurku tak terkira bisa menulis kembali dan bertemu sapa baik   online  ataupun offline dengan guru-guru di  saat dulu aku  berproses.  Indah, Bukan?.   Tapi, kali ini aku bukan menceritakan  masa  aku berposes saat itu melainkan aku menceritakan tahun yang menurutku seperti benar-benar naik roller coaster.  Hehe. Bagaimana bisa menyibukkan diri seasik ini?. Memenuhi kegiatan keseharianku akan membuatku  tidak memikiran fikiran orang lain. Kok bisa senang terus?. Karena yang tidak senang tidak aku ceritakan. Biarkan me...

Mekar Merunduk

Gambar
                                                    Mekar  Merunduk “Lantas apalagi yang harus kulakukan lagi, Far?. Saya sudah pasrah” Ungkap Farah kala itu.      Begitulah kata si bunga desa semata wayang itu dengan sesenggukan. Matanya tak bisa mengungkapakan lagi dengan ekspresi sedangkan bibirnya pun tak bisa mengatakan apapun lagi setelah itu. “Sabar, Silmi. Semua itu akan indah pada waktunya. Mungkin saya adalah bagian dari tempat bercerita dan mengetahui banyak cerita tentangmu. Semua yang kau lakukan sudah tidak salah. Saya pun tidak juga menyalahkan orangtuamu agar kamu juga tetap disini. Semua itu takdir, Sil. Dan kamu pasti bisa menjalaninya”. Tutur Farah. Silmi masih sesenggukan  dengan keadaan  rasa kecewa dan putus asa yang mulai membentengi dirinya kembali untuk kesekian kalinya. Dia...

Sudah yang Mendesah

Hari ini, tanpa rencana ku bersamai Ibu untuk berkunjung ke tempat leluhur. Kunjungan kali ini adalah Tegalsari dan Kradinan.   Di tempat Tegalsari, sekarang sudah terlalu ramai. Bagiku tak sesakral dulu yang menjadi tempat meditasi ternyaman ketika saya "Jibek". Karena  jiwa introvertku, seakan-akan keresahan  meninggi otomatis melihat kondisi yang sekarang. Tak ada keluh kesahku ketika mengheningkan raga dan rasa kali ini. Akan tetapi, berbeda ketika saya berkunjung ke Kradinan. Suasana yang sepi, hening dan asri membuat saya lebih ini leluasa untuk berdoa dan bercerita kepada leluhur. Hingga tetesan air mata tak terbendung dalam untaian doaku kali ini.  Entahlah kali ini berbeda sekali. Sudah, Gusti!. Cukup sampai begini mawon Gusti. Sepanjang perjalanan pulang bertemu dengan teman-teman dengan fase yang berbeda. Kuberikan senyumku, tapi ternyata hati ini tidak bisa berbohong untuk menolak dengan keramahan senyumku yang kupunya seperti dahulu. Sareh, Sumeleh