secarik cerita santri



Relung  Sendung desa Santri :  Bentuk Pluralisme kelompok Masyarakat
Oleh : Septian Eka Pratiwi
Masa Kecil
Dulu, banyak orang Indonesia merantau ke Malaysia  untuk memakmurkan kehidupan keluarganya .  Mereka beranggapan jika merantau maka akan mendapat uang ringgit yang kurs-nya cukup tinggi ditukar ke nilai rupiah waktu itu. Ibuku adalah salah satu orang yang mempunyai gelar sarjana muda dari ribuan pekerja Indonesia di Malaysia. Ia memutuskan untuk pergi ke Malaysia agar dapat membantu nenek menafkahi  saudara-saudaranya yang masih sekolah.  Sampai 4 tahun kemudian, ibuku  dan ayahku yang  asli dari Tulungagung menikah di tempat perantauan. Satu tahun lebih setelah pernikahan  tepat tanggal 11 September 1996  aku lahir dengan umur 7 bulan dalam kandungan. Oleh  karena itu, aku terlihat kuat dan sempurna dari fisik tapi fisik dalamku tak sekuat teman lainnya. Kala itu  ayahku  sibuk dengan bisnis PJTKI Indonesia-Malaysia. Ibupun akhirnya harus menitipkan aku  yang masih bayi dengan tetangga rumah kontrakan yang bernama  mak [1]Yang.  Ramainya biro jasa yang ayah dirikan di daerah Air Hitam, Batu pahat, Malaysia  membuatku  jarang merasakan pinangan orangtua dalam hari-hariku. Hingga suatu ketika ibuku memutuskan untuk  membawaku bekerja setelah aku susah makan waktu diasuh mak Yang dan sakit-sakitan. Karena  kehidupan di Malaysia cukup tinggi,  akhirnya orangtuaku  mengirim diriku yang masih umur dua tahun  ke  Ponorogo   kota kelahiran ibuku agar bisa tumbuh berkembang dan terjamin pendidikannya.
Ibukku menemaniku di Ponorogo kurang lebih 2 minggu untuk menghabiskan masa-masa akhir bersamaku. Di kota ini aku memulai kehidupannku  yang sebenarnya. Kota yang membesarkanku dengan segala kepolasanku. Nenek dan Bulik[2] adalah sosok  pengganti orangtuaku di kota ini. Aku mengakui mereka sangat keras  selama  mendidikku. Hampir setiap waktu aku dimarahi karena terlalu teledor dengan tingkah lakuku yang masih sesuka hati.  Alarm hari-hariku setiap sore adalah tanda teriakan dari bulekku untuk menyuruh mandi. Ketika aku terdengar teriakan itu, Aku berlari kencang ke kamar mandi.  Bulek pasti sudah memegang senjata sapu lidi untuk memukulku. Sebenarnya alasan bulik  galak denganku agar terbiasa mendisiplinkan sholatku. Dengan umurku yang masih sangat muda, aku tidak menyadari niat baik itu  tak sampai terlihat dari teropongku kecilku.
Hiburanku dirumah hanya dengan suara radio dan tape yang kadang terdengar suara lagu ya thoiba dari Hadad Alwi dan Sulis. Aku yang belum mengenal huruf  hanya bernyanyi sesuka hati.  Aku mulai mengenal  pelafalan arab melalui media yang cukup jadul.  Aku mulai menangkap dan menirukan lagu-lagu Hadad Alwi.  Karen a aku yang cerewet dan supel bergaul dengan anak-anak yang lebih tua ddenganku. Akhirnya aku berangkat sekolah  dengan temanku yang bernama Niam. Niam adalah  temanku yang sudah sekolah di TK Muslimat  timur  dusunkku. Bulik tak mengetahui dengan tingkah lakuku yang nekat untuk ikut sekolah. Sifatku yang sering buat onar membuat bulik dipanggil oleh pihak guru agar mendaftarkanku di TK sesuai prosedur pendftaran anak didik baru.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku ikut teman-teman mengaji di rumahnya sang kyai yang ada di dusunku.  Biasaanya anak-nak mengaji di rumah kiai atau pemimpin sholat waktu di masjid. Aku tak mengenal kyai itu sebelumnya, yang kutahui dia adalah sosok yang menaiki sepeda setiap sore menuju masjid. Setelah mengetahui aku belajar mengaji disana, bulekku dan nenekku menitipkan kepada sang kyai dan keluarganya untuk mendidikku. Merekalah kerabat dekatku  yang belum dikenalkan oleh nenek dan bulekku.  Aku sering memanggil mereka dengan kata pakpuh[3] dan bude[4]. Sore harinya aku mulai mengisi kegiatanku dengan ikut belajar mengaji di Madin. Budhe  menyarankanku untuk mengikuti belajar mengaji di madin agar  mendapat ilmu agama yang lebih dalam selain di tempat mengaji. Badanku yang kecil kala itu tak menggoyahkan tekadku dalam belajar mengaji. Aku selalu berangkat petang lebih awal dibandingkan dengan teman teman lainnya.aku tak jarang mengaji sendirian karena hujan datang ketika menjelang ataupun sehabis magrib. Akhirnya aku digendong oleh budhe nyai dan diantarkan pulang ke rumah. Hal itu menjadi kebiasaan bude mengantarkanku ketika  hujan deras datang. Dari sinilah aku mulai memetik pelajaran jika kesungguhan  akan membuahkan hasil yang tak mengecewakan.  Dengan semangatku yang menggebu-gebu  tidak ada yang menghalangiku dalam setiap langkahku. Termasuk dalam proses belajarku pada saat itu. Lingkungan yang mendidikku untuk menaati peraturang yang bersifat agamis.  Selintas dalam pikiranku adalah apakah lingkungan  tempatku tumbuh dan berkembang ini sama seperti lingkungan lainnya.
 Seperti biasanya, budhe nyai memintaku untuk membantunya  selama hari lebaran.  Waktu itu pak puh adalah tokoh masayrakat yang disegani oleh banyak orang. Rumahnya selalu ramai seperti pasar ketika lebaran datang. Aku ditemani dengan Khusnul untuk membuat minuman dapur. Tujuan kami adalah membantu budhe dan pak dhe untuk melayani  hidangan dan minuman.   Tetapi kami disana mendapatkan dua  tujuan yaitu membantu sekaligus ngalap barokah[5] dari  pak puh dan budhe nyai. Banyak ilmu yang kudapat selama aku membantu bude di rumahnya seperti kelihaian, kesantunan, adab bertamu dan pesan-pesan kehidupan dari pakpuh yai. Masih ingat dengan pesan pakpuh  untuk tetap hidup sederhana meskipun akan dipertemukan dengan nikmatnya dunia.  Dia selalu mewanti-wanti untuk hidup sederhana, maka aku akan  merasa cukup dan bersyukur. Ternyata pesat-pesan itu pesan terakhir kudengar setelah  aku memutuskan untuk mencari ilmu di pondok seperti teman-teman sepermainanku yang sudah terbang ke penjara suci terlebih dahulu.
Masa di Pesantren
        Semenjak umur 11 tahun aku memutuskan untuk berangkat mondok.  Tapi aku tidak tahu harus  memilih pondok mana yang saja yang cocok denganku.  Saat itu aku dibimbangkan dengan  teman-teman bermain yang banyak melanjutkan sekolah di pondok salafiyah. Dan aku tahu saat itu ibu berpikiran modern. Ibu yang mengetahui  dunia pendidikan yang luas di daerahkota akhirnya  melemparku di sebuah pondok. Pondok yang jauh dari anganku. Tidak ada kata makan bersama satu piring, tidak ada yang tersenyum saling menyapa karena pebedaan kasta atau beda tingkat.  Aku mulai menjadi pendiam Karena kebudayaan yang baru dari sudut teropongku adalah bersikap pluralisme.  Dari sekian kegiatan ekstra yang kutemui hanya pramuka dan kegiatan muhadhoroh yang kupahami kegiatannya.   Kegiatan-kegiatan yang wajib diikuti santri baru sangat banyak sampai aku  tidak tahu mana jati diriku.  Aku mencoba menekuni kegiatan pidato 3 bahasa. Disana aku  menggunakan rasa percaya diriku untuk berbicara layaknay bung karno sang proklamator yang ku kagumi kala itu.  Kala itu kekaguman pada sesorang adalah motivasi hidp untuk menjadikan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. ,yang menjadikan boomerang setiap sat adalah   memaksaku untuk mengenggap tekadku untuk menapaki kehidupanku.
 Pramuka  adalah kegiatan yang menyabitku untuk melakukan apapun ketika dibebaskan di alam liar.  Aku tak memandang apapun ketika aku melakukan kegiatan yanag ada dalam prmauka sampai  karakterku yang masculine semakin tumbuh besar karena ketidakpantanganku. Aku tahu sikap yang mendarah daging di darahku ini sulit kuhilangkan . aku merasa malu ketika aku tak bisa selelmbut teman-teman santri yang lain. Yang bisa berjalan pelan yang berkata lembut dan sifatnya  seperti anak perempuan lainnya.  Sedangkan aku hanyak berkata seperlunya dan tak pernah murah senyum.  Padahal kakak pendampingku sering menasihatiku untuk menjadi orang yang murah senyum. Namun  semua itu seperti iklan yang lewat didepanku.
Dua bulan  terhitung aku menginjak di pondok yang menggemblengku akan berharganya waktu. Akhirnya aku menghirup ruangan kelas dan  duduk di kelas A.  Kelas ini adalah   kelas anak-anak yang masuk ke 30 besar. Dikelas satu SMP aku  mendapatkan  jumlah mata pelajaran yang mengagetkan nyaliku. Jumlah pelajaran yang harus ku taklukkna adalah 22 macam. Hampir 70 persen dari semuanya adalah mata pelajaran Islam yang 60 persennya belum pernah kukenal sebelumnya. Aku berusaha mengobor Nyaliku yang mulai kendor agar tidak menutup ceritaku mondok sampai detik itu. Akhirnya aku mulai mencintai  pelajaran mahfudzot[6], Imla’, Khot dan IPA. Di dalam mahfudzot  aku mempelajari tentang  cara menghargai ilmu dan kehidupan.  Saking senangnya saya selalu menghafalkan ke ustadzah lebih awal dari teman-teman.  Di imla’ juga menarik perhatianku dalam menyalin apa yang katakan ustadzah. Kegiatan dalam pelajaran ini sering kulakukan ketika aku mengikuti kegiatan madin dulu. Dengan mendengarkan penjelasan  sambil melengkapi ma’na gandulku. Selain itu juga ternyata   bakat kesenianku terlihat ketika aku mengenal khot yang menunjukkan bagaimana menggerakkan pen khot agar terbentuk huruf hijaiyah dengan indah. Pertama kali menginjak sebuah laboratorium IPA membuat diriku terlihat ndeso[7] dengan peralatan-peralatan yang ada di lab. Kala itu aku diperkenalkan dengan   senyawa amoniak. Baunya cukup menyiksa hidungku beberapa menit karena menyengat dihidung.   Semenjak itu aku trauma untuk mengenal bau senyawa yang ada di lab.
Selama tiga bulan pertama dipondok aku mulai resah dengan pilihanku untuk menimba ilmu di tempat  ini. Penjara suci yang menjadikanku alien disini.  Aku yang  kala itu masih buta dengan arti islam sebenarnya. Aku seperti kerbau dungu yang  hanya disetir ngalor ngidul mengikuti kegiatan pondok.   Surat Arrohman dan Al waqiah yangs sering kubaca sebelum  magrib mengajarkanku sebuat gaya bahasa yang menarik dari Tuhan. Dengan kata-kata yang sama di ulang-ulang di dalam surat arrohman membuatku  termotivasi untuk mengahafalkannya.  Surat-surat itu adalah  bagian terkecil dari Al quran yang diracik indah dalam penyusunnya. Meskipun aku tak tahu arti sebenarnya dari isi suratnya aku menganggap surat-surat itu peringatan dan penegasan bagi umatnya agar selalu ingat kepada Allah.    Kala itu aku salah satu  santri baru yang sering telat masuk masjid. Aku masbuq dan harus mendapatkan ta’ziran dari qismul amni yang bertugas pada waktu itu. Akhirnya atribut papan nama yang wajib dipakai disita sementara karena melanggar peraturan. Aku harus mengambilnya  sesuai jadwal yang diinstruksikan para pengurus pondok. Biasanya  para santri melakukan ta’ziran berupa membersihkan tempat-tempat umum seperti aula, masjid dan  lingkungan pondok. Sehabis selesai melakukan ta’ziran aku langsung menuju pengurus pondok dan mengambil papan nama. Sayangnya sikapku yang ceroboh membuatku  sering lupa mengambilnya dan harus melakukan ta’ziran lagi agar bisa mengenggam atributku yang disita kembali.
Lingkungan bahasa adalah lingkungan yang diterapkan pondokku. Pendidikan yang diterapkan  berkiblat ke pendidikan gontori[8]. Pendidikan yang menggunakan bahasa arab dan bahasa inggris selama pendididikannya. Setiap malam  santriwati baru harus meghafalkan mufrodzat dan vocabulary berjumlah 10. Masing-masing kamar memiliki 5 kakak pengasuh yang diambil dari santriwati kelas 4 dan 5.  Aku dan teman-teman biasanya menyetorkan hafalan mufrodzat dan vocabulary dengan kakak pengasuh kamar secara bergantian. Mengaji sorogan[9] rutinanku setiap ba’da magrib diganti dengan mengaji mufrodzat dan vocabulary. Kesalahan lupa menggunakan bahasa Indonesia disaat pelaksanaan bahasa asing menjadi hal yang menakutkan bagi santriwati baru. Ta’ziran yang memalukan yaitu disuruh untuk berteriak  mengatakan 10 Mufrodzat  hari kemarin sambil berjalan mengelilingi aula kecil di  daerah kawasan santriwati baru. Ditempat ini saya mulai belajar  tentang berhaganya waktu meskipun setiap detik. Setiap waktu jaros  menjadi alarm  satri dalam pergantian di pondok.   Pukul sepuluh adalah hal yang kutunggu-tunggu  pada setiap hari. Karena pada pukul itu santri dibebaskan untuk merebahkan badannya  setelah  belajar bersama di teras masjid  yang seperti lapangan kecil sepak bola besarnya.
 Jauhnya jarak antara sekolah dengan asrama pondok membuat kita berangkat lebih awal dibandingkan dengan sekolah  diluar sana.  Biasanya pukul 6 aku sudah siap berangkat.  Dengan wajah-wajah yang masih polos santriwati baru diajarkan bagaimana bekerudung dan berpakaian yang rapi. Semua santriwati diwajibkan memiliki sepatu pantofel dan olahraga. Selain itu santriwati  juga tidak diperbolehkan memakai kaos yang bermotif-motif seperti di  luar pondok karena pondok ini mengajarkan  kesederhanaan seperti tertera di panca jiwa podok[10] .  Tidak ada satupun yang memakai tas untuk membawa buku pejalaran. Semua buku diangkut  dengan tangan sendiri selama perjalanan 15 menit dari asrama. Semua santriwati berangkat bersama ketika jaros[11] terdengar keras dari timur kamarku. Sesampai  gerbang sekolah 4 santriwati sudah menjaga disana dan mengeceki atribut santriwati yang wajib dikenai seperti papan nama, kerapian dan sepatu yang dikenakan. Jika  santriwati tidak mentaati peraturan maka akan mendapat  hukuman membersihkan lorong masuk dan lapangan sekolah.  Tak heran jika banyak santriwati berkeliaran ketika jam masuk untuk memunguti sampah-sampah yang ada di sekitar lapangan sekolah.
Setiap pagi  kelas dibiasakan membaca juz amma dan dilanjutkan mengaji al qur’an sambil menunggu ustadz atau utadzah masuk ke kelas. Saat itu aku tidak mengetahui  Air mataku selalu menetes ketika kulantunkan ayat-ayat Al-Quran. Gejolak yang kurasakan untuk tetap bertahan dengan peraturan pondok yang belum menyatu membuatku  gundah. Akhirnya aku mulai sakit-sakitan dan dirujuk kerumah sakit. Dokter mengatakan aku telah mengalami depresi berat, mengidap penyakit tipus dan maag. Satu minggu kemudian aku diajak pulang oleh ibu karena sudah tidak tega melihat kondisiku yang semakin kurus. Saat itu aku berusaha membuat ibuku percaya kalau aku betah mondok disini. Tekadku untuk mencoba bertahan mondok disini sampai lulus  sudah bulat dengan tameng badan yang kokoh.  Tetapi setalah ibukku melihat fisikku yang mulai kurus dan pucat, aku pun dipindahkan sekolah . tanpa sepengetahuanku aku sudah diuruskan administrasiku menuju sekolah baru .  aku tak pernah mendengar nama sekolah baruku itu sebelumnya.
  Saat itu aku mulai menggenggam tekadku lagi, ibu datang dengan  pandangan baru.  kuberikan tanganku dan salam perpisahan dengan teman sekamarku.  Meskipun aku harus meninggalkan proses  yang kusuka di tempat ini , yaitu membuat tulisan arab yang indah dan berpidatoku bak orator.  Kegoncangan mental sempat membuatku kalut karena aku harus memulai dari titik nol lagi.
Pasca dari pesantren
 Aku membawa oleh-oleh  ilmu dan budaya tentang agama yang berbeda dibandingkan yang mayoritas  dari pondok salafiyah.  Dengan pandanganku tentang islam dan motivasi yang kudapat dari  sang pengasuh pondokku.  Interaksi antara pandangaku  bahwa islam itu fleksibel dan membeda-bedakan “  penuh dengan kontrovesi.  Aku mulai mengamati apa yang kutemui di lingkunganku. Perbedaan pandangan tentang islam membuat lapisan masyarakat terpisah menjadi kota-kotak  dan terpisah diatanta satu sama lain.
Aku bermain di barat rumahku. Disanaa biasa bertemu dengan mas majid kakak sepupuku sekaligus teman sejak kecil. Dia adalah kakak yang selalu motivasiku dalam kondisi apapun. Aku mulai menceritakan kegiatan apa saja yang kuikuti selama dipondok. Mulai  antrian mandi yang memanjang dan jemuran ilang karena angin yang kencang membawa jemuranku terbang ke atap warga sampai antri makan hanya untuk mendapatkan nasi dan kentang godok berkuah asin. Banyak perbedaan dariku mulai sikapku yang lebih terkesan halus dan gaya berpakaianku yang berubah drastic dari yang sebelumnya.
Dua hari kemudian aku bertemu dirumah pak puh yai dan bude nyai.  Kucium tangan pak dhe dan budhe yang mulai kusut karena umur. Aku mulai diintrogasi tentang apa yang kudapat  dipondok.  Apa manfaatmu membaca arrohman dan al waqi’ah setiap ba’da magrib. jawabanku  yang tak berbobot membuat pakpuh tersenyum saja. ternyata aku masih belum mengupas habis tentang islam selama aku dipondok. Mereka cukup bangga  karena aku mempunyai kesempatan  untuk belajar di pondok. Harapankecil dari mereka adalah agar saya bisa membagi ilmuku di rumahnya. Kala itu aku mengiyakan  terkait amanah yang besar dari beliau yang sudah aku anggap orangtuaku sendiri.  Itu pesen pakpuhku yang terakhir kali setelah sku memutuskan untuk kos  dan meneruskan sekolah sore di  pondok Mayak.

***
Setelah lebaran selesai aku resmi pindah di SMP berbasis Islam Nahdlatul Ulama.  Sekolah SMP Ma’arif 1 Ponorogo yang terkenal dengan mendidik karakter berlandaskan ahlussunnah wak jamaah. Awalnya aku akan diletakkan di sekolah barat yang merupakan kelas unggulan.  Tapi melihat kelas unggulan yang cukup berat kegiatannya, ibukku menolak tawaran dari kepala sekolah saat itu. Aku dimasukkan dikelas tujuh H. kelas yang mayoritas anak-anaknya  nakal-nakal. Aku yang baru anak pindahan di sekolah itu harus mengikuti ujian tengah semester yang sudah dilakukan. Dan hasilnya banyak nilai yang kosong dan jelek  karena tak ada satupun yang masuk dalam pelajaran yang pernah ku dapatkan di pondok.  Saat itu aku diolok olok oleh teman laki lakiku karena mendapatkan nilai terjelek di kelas . aku merasa  putus asa dan tidak ingin melanjutkan sekolah saat itu. Akhirnya aku kumpulkan sekuat tenagaku untuku  meningkatkan prestasiku yang tertinggal dari teman teman lainnya. Aaku mulai menyukai pelajaran pejaran yang diajarkan dikelas. Pelajaran bahasa inggris yang menjadi favoritku sejak SD mengantarkanku pada kesempatan speech contest  di tingkat kota ponorogo. Meskipun aku tak membawakan piala  waktu pulang rasa syukurku  diberi kesempatan bersaing di  sjsng kompetisi. 
Di kelas delapan aku ditempatkan dengan anak-anak yang masuk dalam nilai teratas dari  nilai anak-anak yang berada di SMP  bagian  timur. Aku sekelas dengan Ade. Dia adalah temanku berjuang ketika aku mengikuti pramuka garuda tingkat cabang. Kelas ini mengajarkanku bagaimana  cara bergaul dengan teman laki-laki.  Dikelas tiga aku dan teman-teman sekelasku dipindah ke SMP barat karena dikira sudah mumpuni dengan  kemampuan anak SMP barat. Di kelas ini aku bertemu dengan guru yang mengajarku tentang keaswajaan . dia mengajar seakan-akan dia memposisikan   berada dititik tengah diantara organisasi masyarakat yang ada.  Kata-kata yang membuatku bingung mengartikan antara bersifat netral atau mengikuti salah satu  ormas yang ada.  Bahasa yang digunakan dalam mengajar  keaswajaan seakan merayu untuk mengikuti ajaran yang ada didalamnya.  Tanpa tahu dia telah memojokkan teman saya yang  beraliran Muhammadiyah. Banyak nya ormas yang ada di Indonesia membuat Islam di Indonesia  terpisah karena  mentahnya menguasai kefahaman yang mereka pilih. Ditambaha lagi suatu hari aku menanggapi tentang pembicaraan kecil tentang kefanatikan. fanatic yang membuat seseorang itu salah bersikap dan bertindak.   Memang nadhlatul Ulama mengajarkan tentang cara benar  menuju rahmatal li alamin berlandaskan ahlussunnah wal jamaah. Dilihat dari budaya  dan situasi Indonesia, Nadhlatul ulama  pantas menjadi panutan. Ajaran Madzab Imam syafi’i yang  menjadi  totokan dalam menentukan hukum-hukum Islam.  Dari kandungan isi didalam ajarannya mengajarkan juga tentang menghargai ajaran lainnya.  Bahkan bisa dikatakan kalau setiap  faham itu  saling menghargai satu sama lain dengan cara  mereka sendiri-sendiri dengan alasan yang logis.
  Faham NU yang  kenal di lingkunganku membuatku senang mengikuti kegiatan-kegiatan yang berlatar belakang Nu. Tanpa mengetahui inti dari kegiatan tersebut aku selalu mengikutinya  dan serba ikut ikutan dengan orang dengan teman lainnya. Dari stu aku mulai menyelami dengan Islam yang Fleksibel di era zaman Digital ini. 
  Kebudayaan dan Tradisi Islam yang biasa kuikuti di desaku seperti latihan berjanzen, Genduren, Slametan dan Yasinan  membuat saya belajar akan  bagaimana cara mengenalkan Islam tersebut dalam perspektif kultur. Sebagai salah satu pemuda di lungkungan, aku  selalu mengikuti undangan berjanzen di tempat orang nikahan, mengisi mauludan di masjid dan  mengisi rutinan acara pengajian waktu  lingkunganku. Tradisi ini sudah mendarah daging lingkungan para pemuda sendung.  Aku pun mengulas informasi mengapa tradisi islam begitu kental di daerah ku.
 Menurut sejarah, Sendung adalah daerah abangan yang masih kental dengan hindu budha.  Gemblakan dan jarananmenjadi pemandangan sehari-hari sebagai pelampiasan dalam menikmati hidup.   Daerah yang terkenal dengan kemistisannya membuatku tak heran jika  aku mendengarkan  suara yanhg aneh ditengah malam. Pencurian sudah biasa dilakukan di desa ini.  Hingga suatu ketika mbah ngaluwi  mengambil mantu dari Tegalsari. Daerah yang terkenal dengan  dengan  wong putihan. Mantu terbut sering disebut dengan kyai Hasan Abdullah. Beliau yang mulai menyebarkan Islam di daerah ini dengan memasukkan unsure-unsur keislam lewat kegiatan yang familiar di lingkungan masyarakat seperti mendirikan pondok kecil dan mengadakan ngaji  bersama dan mengadakan genduren untuk mengirim doa kepada leluhur kita. Tradisi ini diteruskan oleh keturunannya sampai ke kakek ku. Konon dari cerita di lingkunganku  kakekkku sosok yang dermawan dan dewasa. Kala itu kakekku membuat kebun tebu dan kelapa sawit . banyak yang  menjadi abdi nya semasa hidupnya.  Kakekku mengajarkan  orang-orang yang mengabdi dan ndherek seperti saudara dan anak kandungnya.  Kebutuhan sehari dan sekolah dibiayai sepenuhnya olehnya tanpa pamrih.    Kegiatan  mengaji dan berjanzen setiap saat selalu kakek ajarkan  selama mereka mengabdi.  Sepeda cikcik yang menjadi sebutan  di zamannya menemani  kakek berkelana  menyambung silaturahmi  antar teman nyantri  waktu di Cirebon.  Kakek merupakan salahsatu saksi bisu kekejian PKI ( Partai Komunis Indonesia). Sungai Brantas menjadi lautan merah karena  menjadi pembuangan mayat-mayat pribumi yang tak berdosa.  Rumah kakek merupakan salah satu prabon[12] perlindungan ketika para PKI melewati daerah desa Sendung.  Masyarakat yang biasa berlindung tersebut diajarkan bagaimana beragama dengan baik. Hingga akhirnya mereka ingin meneruskan mengabdi karena ada  kecocokan dengan apa yang dikatakan dari kakek tentang sebuah pentingnya agama dalam hidup.  Banyaknya link kakek karena aktifnya di partai Masyumi memudahkan kakek dalam mengurus perizinan madrasah di kementerian agama.  Berkat kakek, madrasah tersebut  dapat diajar oleh ustadz-ustadz   yang belabel negeri.  Madrasah tersebut tidak memungut biaya sepeserpun untuk mengkontribusikan segala aktivitas didalamnya.    Dengan adanya madrasah ini pendalaman agama Islam semakin kuat di daerah ini dan merambah ke desa lainnya juga. Kegiatan malam diisi dengan mengaji kitab kuning bermakna gandul  di madrasah. Bukan hanya kegiatan dalam pendidikan saja yang berkembang pesat didalamnya,  Kegiatan kesenian seperti Anggukan[13] dan Hadroh melengkapi kegiatan dilingkungan ini. Islam di daerah Sendung ini mulai menebal ketika banyak dari murid-murid di madrasah meneruskan mondok. Mereka membawa ilmu keagamaan yang membuat Islam di lingkungan ini lebih berwarna lagi.  Cara  penyebaran Islam begitu Fleksibel dengan lingkungan. Tidk ada unsure kefanatikan dalam Islam saat itu. Cerita  dari nenekku tentang kakek membuatku malu karena tak bisa menyelesaikan  proses mondokku dan   meneruskan jejak Islam kakek dalam menyebarkan Islam.  Perubahan yang signifikan ketika madrasah tersebut mulai berkurang karena  sudah tidak terjalin silaturahmi dengan ustadz-ustadznya setelah kakek diambil sang maha kuasa pada tahun 1995.  Kitab-kitab yang berkertas dluwang masih kutemui dengan bentuk tulisan yang tak tahu membacanya. Sekilas  kitab tersebut seperti kalagrafi yang bercabang dan penuh dengan estetika. Tetapi ketika diamani dan di baca mengandung makna yang banyak.  Di zaman milenial ini pun tak tahu masih ada atau tidak orang yang  bisa membaca kitab-kitab tersebut dengan tata tulisan yang sangat berbeda dengana kitab kuning jaman sekarang. Konon kata Bulik kitab tersebut adalah kita peninggalan mbah khasan semasaa ia nyantri.   Kitab tersebut disimpan di kardus atas lemari  untuk menghormati ilmu di dalamnya.
Masa SMA
 Dunia putih abu-abu yang penuh warna menyambutku. Aku memilih melanjutkan sekolah di MAN 2 Ponorogo. Sekolah ini dipercaya  dengan  harga miring dan kualitas tinggi dalam mendidik anak didiknya.   Sebelum itu aku merasakan  depresi berat karena perseteruan yang dilakukan oleh pihak nenek dan orangtuaku. Malam itu aku menerima telepon dari nomor indonesia yang tak kukenal. Terdengar suara ynga taka sing dari dalamnya. Ternyata ayah pulang  tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Hari itu juga aku dan ibuku berkemas menuju ke bandara untuk menyambut kedatangan ayahku.  Rasa bahagia tak terhitung kurasakan setelah berpisah 14 tahun lamanya.  Hanya cerita masa kecil dan  gambar foto yang menunjukkan bahwa aku mempunyai ayah.  Menafkahi aku dan ibu merupakan bentuk kasih sayang darinya selama ia di perantauan. Kebimbangan datang ketika  ibu memeluk ayahku. Padahal aku mengetahui  ibu  menggugat cerai dan sudah terbuat akta cerai bahwa ibu dan bapakku itu pisah. Kala itu aku belum tahu hukum cerai itu seperti apa. Yang pasti adalah sudah tidak boleh bersama lagi ketika  pasangan tersebut memutuskan untuk bercerai. Perceraiaan  itu terjadi Karena kesalahpahaman yang ada. Nenekpun termakan oleh informasi yang tidak jelas  dari Malaysia.  Konflik yang hebat antar keluarga membuatku suka menyendiri dan ingin memilih jalan sendiri.  Aku yang kala itu masa OSPEK di MAN memilih tak ambil suara tentang broken home yang kurasakan saat itu. Swaktu pulang dari  sekolah, perjalanan menuju ke tempat  biasa menunggu bus aku selalu  dipanggil oleh ibuku.  Semenjak ayah pulang, ibu pulang ke Tulungagung dan tak pernah pulang lagi ke sendung. Ibu ditemani ayah sesekali menjengukku dengan bertemu di kota. Dalam hatiku aku sangat merindukannya tapi disisilain aku tidak ingin menyakiti hati nenek yang mendidikku sejak kecil untuk memutuskan ikut bersama ayah ibu ke Malaysia. Pikiranku dengan membeli apa saja yang kuinginkan membuat aku move on dari  gejolak hebat yang kurasakan saat itu. 
Saat itu bulik sudah ikut suaminya di Jakarta. Aku di rumah dengan budhe dan nenek.  Aku menjadi orang yang temperamen  dan masa bodoh dengan sekolah. Setiap hari terdengan omelan nenekku tentang orangtuaku. Tak pernah  aku pulang tepat waktu karena  tidak ada yang membuatku semangat untuk pulang kerumah. Aku menjadi pengganti ibu dan bulek setelah mereka berdua memutuskan ikut imamnya masing-masing. Mulai dari pembayaran listrik, pembelian gas dan kebutuhan sehari-hari  aku lakukan sendiri dengan uang pesangon dari ibuku. Jiwaku  mulai tertata kembali ketika aku mulai cocok dengan bapak Nasta’in yang menjadi wali kelasku kala aku di kelas sepuluh. Sifat penyayang dan perhatian membuat anak didiknya lebih dekat dengannya. Aku berusaha mengikhlaskan keputusanku untuk tetap melanjutkan di kota asal ibuku ini. Di semester dua aku mulai  mengendarai sepeda motor setelah aku  mengendari kendaraan bis yang jarak halte dengan sekolah hampir 300 meter. Begitu juga teman-teman seperjuangan naik bis memutuskan untuk naik motor dan mondok  dekat sekolah.   Materi tidak bisa menggantikan kasih sayang  dari keluarga. Kusibukkan diri dengan mengikuti kegiatan Pramuka dan kegiatan di rumah. Hingga aku mulai melupakan masa-masa kelam yang baru kulalui.  Tak ketinggalan aku selalu update dengan kegiatan rutinan yang diadakaan di kota ponorogo termasuk Ponorogo Sejuta buku. Event ini mengajak pelajar Ponorogo untuk senang membukan jendela dunia melalui membaca. Saat itu novel  motivasi dan isnpirasi  yang berjudul negeri lima menara menjadi trending pembicaraan di tengah kalangan ABG. Novel  dengan mengangkat latar pondok pesantren dan mantra-mantra penggugah jiwa nya menggugah pembacanya  bertekad kuat. Tahun ini aku tak bisa  menyisihkan uang sakuku karena mulai banyaknya kebutuhan yang harus kupenuhi. Aku mengantri  untuk meminjam novel best seller 2011 milik teman sekelas untuk menikmati cerita didalamnya.  Ternyata  seorang Ahmad Fuadi  dapat membius dengan kata-kata yang ia susun dalam novel karyanya tersebut.  Seorang tokoh Alif yang mulai menikmati pondok pilihan Ibunya. Kemudian menyajikan tentang keajaiban kata-kata  man jadda wajada  dalam kehidupan. Sampai tak pernah ragu untuk bermimpi yang besar dengan memaknai mantra tersebut. Kegigihan seorang tokoh Alif mendorongkku untuk bangkit  dan terobsesi  untuk menjadi seorang Alif. Aku mulai keluar dari zona nyaman dan meekspresikan dalam pikiranku sebebas-bebasnya. Semenjak itu aku mulai menggemari membaca.  Aku mulai suka menulis puisi yang kutuliskan dalamm buku diariku.  Aku selalu hunting buku ke perpustakan ketika jam istirahat tiba. Berbagia novel karya Andrea Hirata membuatku penasaran setelah  novel lascar pelangi karyanya difilmkan.
 Selain berlangganan di perpustakaan sekolah aku juga bersinggah di perpustakaan daerah wilayah Ponorogo.  Disanalah tempat hunting buku keduaku  untuk mencari tentang keislaman. Aku selalu senang membaca tentang penemuan-penemuan yang dipelopori oleh tokoh islam dankisah inspiratif dari seorang  tokoh di Indonesia.  Jalan yang ku pilih ini membawaku lebih tenang meskipun kegiatan keislaman di rumah mulai jarang kuikuti.   Mas Majid selalu mengajakku membaur dengan kegiatan di madrasah. Tapi aku masih belum bisa mengikutinya karena padatnya kegiataan yang selalu kontras dengan kegiatan disekolah. Akhirnya aku hanya mengikuti kegiatan remaja putri saja. itupun juga diajak sama Khusnul teman sebayaku.
 Waktu kelas dua aku bertemu dengan sosok-sosok yang luar biasa dalam hidupnya. Seorang guru hadits yang setiap harinya menggembala kambing tanpa gengsi dan seorang guru akidah yang menceritakan kegiatan  observasi thesis  S2 nya di sebuah gereja. Perbandingan  budaya selama beribadah menjadi control penelitian thesisnya kala itu. Disana juga beliau mengetahui sikap hormat ketika para kristiani  beribadah. Beliau menceritakan bahwa dalam akidah krites juga menggunakan ayat-ayat Al-Quran yang tertulis dalam kitab Injil. Beliau juga menceritakan bahwa tidak ada pelarangan untuk orang islam masuk ke tempat suci mereka. tetapi ibu  Guru mengatakan  kepada kita bahwa jangan pernah masuk ke tempat ibadah agama lain jika keimananmu masih dipertanyakan. Beliau mengkhawatirkan kepada kami yang masih labil tergoyah imannya. Aku mulai memperdalam akidahku dalam Islam dan selalu mempelajari   pelajaran keagamaan agar bisa menjadi muslim yang bertaklid dengan landasan.
  Aku masih dengan teman-teman sekelas di kelas X.  Kelas yang selalu aktif dalam perlombaan classmeeting di sekolah dalam hari-hari event keislaman dan hari penting. Kala itu kami terkenal kelas terkompak dan teramai pada waktu. Akhirnya kita sering memenangkan perlombaan yang diadakan oleh pihak sekolah.
Menginjak di kelas tiga aku dikabari oleh teman-teman selingkungan kalau mbak[14] Ela sakit parah. Mbak ela merupakan  teman sekaligus saudaraku di lingkunganku. Hubbungan kita dieratkan dalam pertalian remaja masjid.  Acara mengaji yang  sering disebut lapanan menjadi canda tawaku terakhir dengannya.   Aku masih teringat betul dengan pembahasan terakhir dengannya adalah tentang sebuah kematian. Aku pun sempat membentaknya karena dia berkata yang tidak- tidak tentang sebuah kematian.  Aku dan teman-teman mbk ela memaksakan diri untuk mengikuti lapanan setelah kabar terakhir dia harus mencari donoran darah karena menstruasi yang tak kunjung berhenti.  Satu minggu setelah acara lapanan di masjid akhirnya  berita kematian itu datang.  Aku langsung berlari menuju rumahnya dan melihat jasadnya yang masih utuh dengan postur badannnya yang terlihat sehat. Air mataku kutahan ketika aku bersaliman dengan ibunya yang masih dalam duka. Aku dan khusnul membantu mencari racikan bunga yang digunakan untuk pengalun keranda.  Sosok yang ku kenal pintar dalam akademiknya itu sudah meninggalkanku terlebih dahulu. Rasa kehilangan lebih  terasa ketika waktu idul fitri tiba. Karena di desa ini kita dibesarkan bersama dengan penuh kebersamaan.


***
  Setelah bapak Siswo Widodo  dipindahkan ke  kementrian agama Ponorogo, guru kimiaku digantikan oleh guru baru yang bernama Ibu Siti Sa’diyah. Ibu Sa’diyah mengajarkanku tentang bagaimana mengkoneksi hati yang baik dengan tuhan. Bagaimana  menjaga hubungan yang baik dengan Allah. Selain mendapatkan bagaimna kimia bereaksi dengan senyawa lainnya ternyata kelas kami mendapatkan tips bagaimana manusia bereaksi dengan tuhannya. Doa penentram hati  menjadi salah satu bentuk pendekatan kepada-Nya yang diberikan darinnya. Doa ini  kuamalkan  ketika aku meragukan jawaban dari soalku.  
Belajar dengan kejujuran hati.  Ibarat Hati seperti  roti tawar tanpa rasa apapun. Ketika memilih mayonees merek apa saja sesuai selera untuk meraciknya. Tepai pad akhirnya efeknya ada apada diri kita. Begitu juga soal Hati, ketika hati itu diajarkan untuk selalu jujur maka akan memberikan baik juga.  Kala itu penawaran membeli jawaban sudah tenar dan terbongkar pada program kontroversi “ Hitam Putih”. Aku tidak mengikuti  teman lainnya yang membeli ratusan  ribu untuk sebuah kunci jawaban untuk ujian nasional. Bagiku baik buruknya hasil ujian nati itu adalah cerminan diri tingkat kesungguhan belajar.   Selain itu,  kunci jawaban tidak menjamin seratus persen kebenarannya karena harga sesuai dengan tingkat kebenarannya.
Waktu wisuda di MAN aku terpuruk sendiri karena tidak ada satupun  yang menjadi waliku dalam moment terakhir mengenakan putih abu-abu. Prosesi wisuda itu membuatku terharu karena banyak sesi foto bersama keluarga yang hanya dalam mimpi semuku waktu itu. Aku pernah meyakinkan kalau  wisuda ini adalah bukti laporan pertanggungjawabanku kepadan kedua orantuaku. Tapi tak ada greget sedikitpun untuk menghadiri acara tersebut.  Ketika aku pulang tak ada satupun yang menanyakan bagaimana acara wisudku.
 Usai wisuda aku  mulai mengisi waktu luangku dengan mulai mencari kerja sampingan. Tapi niatku itu diurungkan karena tidak mendapat izin dari orangtua. Akhirnya mulai membantu nenek di sawah dan di tegalan[15].  Aku mulai mengikat-ikat sayuran dan mulai melakukan pekerjaan laki-laki lagi setelah  terakhir kali aku melakukannnya waktu SD. Satu bulan terakhir liburan kuhabiskan waktuku beerkelana ke pondok pesantren Durisawo. Pondok yang terkenal masih sangat kental salafnya dan toriqotannya. Kecanduanku untuku mengenal ajaran Islam tidak pernah membuatku berhenti. Aku dapat  mendalami  tentang penafsiran Al-quarn lewat kitab  Tafsir Jalalain dan ilmu fiqih lainnya. Tak ada kata lelahku dalam belajar tentang Islam dimana-manapun. Panggilan untuk ikut melukis indah lingkungan santri itu datang kembali. Kebiasaan santri yang ada dilingkunganku mulai tergerus zaman, apalagi setelah wafatnya Pakpuh Yai  pada tahun 2009 lalu terlihat jelas semakin berkurang.  
Amanah kecil dari almarhum membuatku  termotivasi untuk berkelana ke pondok-pondok agar bisa kembali menemani adik-adik belajar mengaji di gubuk kecilnya. Diponodok ini kutemukan tradisi yang cukup aneh  yang di lakukan santri laki-laki.  Mereka selalu berlomba untuk mendaptkan sisa kopi sang ustadz.  Dari sis kopi tersebut mereka berharap cepat ketularan ilmu yang didapat dari sang guru. Ibarat belajar mencintai  guru dulu baru ilmunya. Dengan begitu ilmu akan lebih mudah kita serap ketika kita mulai jatuhcinta dengan  cara mengajar sang guru. Kebetulan aku sekaligus mondok pasan disitu. Di hari ke lima belas puasa romadhon, datanglah orang-orang yang mengikuti toriqotan[16] di pondok ini. Kegiatan toriqotan ini pada intinya mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir  bersama dimasjid. Mereka meninggalkan kebiasaan untuk kepentingan dunia dan  melakukan urusan  untuk kepentingan dengan tuhan ketika mengikuti kegiatan ini. Di pondok ini   mengajak aku mengerti mengapa aku selalu diajarkan untuk sederhana sewaktu aku ikut dengan pak dhe yai.
   Aku kembali  ke rumah dan mengikuti kegiatan taddarusan. Kegiatan taddarusan ini tidak sebaik dahuli. Dahulu para remaja masih banyak mengikuti kegiatan ini. Kegiatan taddarusan ini  sangat unik dibandingkan dengan taddarusan biasannya. Setiap memasuki juz atau surat pasti lantunan sholawat pendek  khas yang digunakan sejak orangtua pakpuh yai masih ada. Keinginan para nenek-nenek untuk mengaji masih tetap mengobar meskipun matanya mulai tak jelas untuk melihat.  Selain yang  ku rindukan dalam desaku ini adalah mengadakan genduren ketika malam ganjil tiba. Malam ganjil sering disebut dengan malam lailatul qodar.  Tujuan dari diadakan genduren dengan membawa nasi ambeng setiap rumah adalah agar mendapatkan malam lailatul qodar pada malam ganjil terakhir di minggu terakhir bulan ramadhan.
 Ketika malam takbir datang  lima hari sebelum  hari kemenangan  itu datang  para remaja membersihakan masjid yang kotor dengan bekas mercon racikan berbalut kertas. Dan mempersiapkan takbir keliling . takbir keliling adalah event yang ditunggu para pemuda di lingkungan ini. Semua yang jauh kembali untuk berkumpul membawa warna berbeda-beda dari tempat mereka berproses dalam belajarnya.  Waktu seperti seperti itu kujadikan wadah untuk bertukar pikiran dalam meramaikan penyambutan hari kemenangan. Latihan hadroh yang dulu berubah menjadi modern dengan mengajarakan adik-adik belajar kompang banjari di masjid. Yang menjadi hidup kembali lingkunganku ketika kita bersatu kembali untuk mewarnai lingkungan desa ini menjadi kolaborasi warna yang indah. Di era milenial yang canggih dengan media sosial, kita diajak untuk mengkritisi hukum perbuatan yang kita lakukan di medsos. Untuk itu, perlu adanya pendalaman iman dan taqwa ketika kita mulai dilibatkan dalam dunia penuh digital dan  permainan politik. 
 Perguruan Tinggi
Di IAIN Ponorogo aku memilih untuk meneruskan pendidikan sarjanaku. Sekolah yang dulu sempat mengantarkan ibuku menggayung ilmu tentang hukum. Aku awalnya mengambil jurusan pendidikan yang sama dengan ibu ambil dulu. Tapi karena aku ingin berbeda dengan anggota keluargaku. Aku putuskan untuk mengambil  dunia pendidikan untuk meneruskan cita-citaku.
          Masih dengan-sahabat-sabahatku yang dulu di MAN, aku mengikuti berbagai  kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seperti kegiatan lembaga Pers Mahasiswa, kegiatan Keislaman dan kegaiatan Himpunan Mahasiswa program Studi. Pada semester awal  kucoba mengikuti  lomba menulis Artikel tentang IAIN Ponorogo.  Aku  terpilih  menjadi pemenang kedua  waktu itu. Aku mulai menekuni dunia tulisku dan lebih rajin mengikuti kegiatan  pers kampus. Karena kegiatannya sering dilakukan sampai malam, aku tidak diperbolehkan oleh nenek untuk mengikuti kegiatan ini.  Akhirnya aku mengundurkan diri mengikuti kegiatan ini.
Aku mulai menggandrungi kegiatan banjari yang ada di UKI Ulin Nuha.  Disana aku menemukan keluarga  baru dengan segala pemikiran yang hebat. Aku sering menghabiskan waktuku dengan senior untuk membahas tentang kebudayaan islam di Indonesia.Dengan sejarah yang ada bahwasannya  Islam disebarkan oleh wali songo dan bentuk penyebarannya beragam. Mulai dari diadakanannya peringatan tujuh harian kelahiran anak sampai tradisi peringatan kematian seseorang. Wali songo mengubah ajaran islam sangat fleksibel pada masa penyeberannya. Mereka mengemas Islam dengan racikan-racikan kebiasaan masyarakat zaman tersebut. Hal ini cukup dimaklumi karena zaman tersebut masih kental dengan kegiatan hindhu dan budha. Semua itu terbukti ketika kesaksian seorang  petinggi hindhu dalama membongkar Islam Jawa. Seperti halnya memberi penerang lampu pada ari-ari yang terpendam pada bayi. Tujuannya adalah agar si teman bayi tidak kegelapan di dunia. Selain itu, di desaku kegiatan anggukan[17] dan bersholawat sering dilakukan ketika seorang bayi diberi nama dan ketika acara selapanan[18]. .Anggukan yang dilakukan sebagai bentuk penyambutan selamat datang  dan sholawat sebagai sebagai pengingat kepada kecintaan Rasul. Keunikan kompang menabuh menjadi peninggalan penyebar di desa Sendung yang masih dilestarikan sampai sekarang.
 Setelah satu tahun aku aktif mengikuti  mengikuti kegiatan ektern kampus, aku memutuskan untuk kembali ke  desa. Dan mengikuti  kegiatan IPNU ( Ikatan Pelajar Nahdhlatul Ulama) . aku dipercayai menjadi sekretaris dalam organisasi ini.  Aku mulai mengajak adik-adik untuk berpikir kritis mulai menanggapi permasalahan yang sering ditemui di kalangan masyarakat.   Dalam wadah ini aku mulai merambah kegiatan pemuda desa  dalam keislaman.  Disanalah aku mendapatkan kumunitas Islam yang bersatu dalam mengembangkan potensi adik-adik di desa. Aku mulai berkembang  di lingkungan yang baru kusentuh.  Selain itu, Aku sering menghabiskan waktu ramadhanku untuk mengaji kitab di pondok. Untuk kali ini aku putuskan mengaji di pondok Darul Huda Mayak. Menurutku, kesempatan ini tidak akan datang keduakali untuk mengaji kitab kuning kembali. Jadwalku dipadatkan dengan kegiatan kuliah, mengajar TPQ dan mengaji sore.  Selama  aku ikut mengaji aku hanya meminta izin kepada orang yang dirumah.  Orangtuaku  sudah mempercayaiku di Jawa meskipun aku mencoba membantah mereka dalam urusan mengembangkat keinginanku  dalam mengembangkan bakatku hobi dan keinginanku.
Saat itu ibuku  pulang ke Jawa untuk mebuat buku passport baru karena buku lamanya sudah penuh. Keinginannku untuk merasakan hidup bersama tak bisa dibendung lagi. Akhinya aku meminta ibu untuk pergi ke Malaysia . Pertama kalinya aku merasakan  lebaran di negeri orang membuatku harus berdaptasi dengan tradisi dan kebudayan Islam tanah Melayu. Dalam google mengatakan Negara ini sangat kental dengan keagamaannya. Sampai kegaitan berpakaian tertutup sudah menjadi  pemandangan biasa disana. Tidak ada satupun kutemui memakai baju muslim press body kecuali itu orang non muslim. Di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan  tahun 2015  ini kuhabiskan malam lailatul qodarku  dengan sholat qiyamullail di rumah. Tak ada istilah  genduren dan  sholat i’tikaf di masjid . Bahkan  pelaksaaan sholat tarawih berbeda dalam pelaksanaan dan lafadz yang dikumandangkan khatib yang asing bagiku. Tidak ada kebiasaan seperti yang aku temui dijawa seperti berdoa setiap dua kali sholat   tarawih, melakukan sholawat dan bersalaman antara jamaah dan pastinya tidak ada peringatan malam lailatul qodar membuka ambeng  seperti yang kutemui di jawa.  Kebetulan ayah menjadi khatib masjid komplek perumahan taman roma.  Kebudayaan islam di Jawa ayah lestarikan disana dengan menjadi muadzin dan membaca  dengan irama qori’ versi Indonesia setiap petang.  Dengan sifat supelnya, ayah  memiliki kawan dari berbagai ras. Mulai dari orang Cina, orang Kamboja,India,  orang Banglades, orang Melayu sampai orang Maroko. Aku dikenalkan dengan orang-orang Maroko.  Mereka sedang menempuh belajar S2 di Universiti of Husein Onn Malaysia.  Dengan kelihaian bercakap ayah ala melayu-arab, mereka lebih nyaman dan mulai mengenal kebudayaan Islam Jawa.  Akupun terkesimak ketika salah satu orang Maroko itu  mencoba berbicara denganku memakai bahasa Indonesia.  Aku pun sempat tercengang ketika mereka mengetahui kebudayaan islam  dijawa dengan keetnikannya. Dengan kebiasaan  menghafal alquran, saya sempat minder ketika mereka bertanya denganku tentang hafalan Al Quranku. Disana juga aku diperkenalkan oleh pemimpin jemaaah yang sering disebut kyai di Jawa. Di Malaysia, pengurus masjid, baik marbot masjid sampai pemimpinnya mendapat bayaran tetap dari kerajaan . Upah yang dipatokpun cukup tinggi  dengan pedapatan rata-rata orang melayu. Maka dari itu,sering terjadi percekcokan karena  banyak yng ingin  menduduki pengurus masjid demi mendapatkan kedudukan. 
Di Batu pahat, Johor ini aku mengenal bentuk kemeriahan dalam penyambutan hari raya versi malaysia. Sepekan penuh dibuka pasar malam di seberangan jalan lintas kerajaan.  Aku mulai mengetahui kesenian yang dimiliki oleh  tanah melayu ini. Dengan baju-baju melayu  yang membuatku lebih berkesan menutup aurat penuh dengan model baju di Indonesia memerkan bentuk badan. Malam  terakhir ramadhanku di melayu  kuhabiskan dengan mengikuti jamuan di depan  masjid taman rona.  Kesempatan ini pertama kali kurasakan ketika aku  kaget melihat mereka dengan  tanpa  batas makan dengan lahapnya.  Aku   dengan kebiasaaan orang jawa jinak-jinak merpati menolak dengan halus makanan yang ditawarkan. Etika waktu dijawa membuatku ditertawakan ketika aku sempat memberikan melayani tamu  ayah dengan setengah merunduk dan memberi senyum ramah kepada sang tamu. Perbedaan kultur membuatku bingung bersikap selama aku di tanah melayu ini
***
Setiap habis magrib ayah dan ibu mengajari anak-anak  mengaji. Dengan  keterbatasan bahsa aku mulai mengajari mereka. Tak ada pungutan biaya sepeserpun dalam rutinan malam.  Metode yang digunakan ayah dan ibu adalah sorogan sepertti di Indonesia. Ternyata di negeri orang , orang jawa   sangat dihargai dengan  terkenal sopan santunnya. Dengan sikap ayah dan ibu yang tak lelah mengajarkan anak-anak melayu mengaji,  banyak yang akrab dengan keluargaku disana.  Ayah dan ibu mengajarkanku tentang tidak mengutamakan materi selama ada tekad yang kuat untuk belajar dalam diri  seorang anak. Maka dari itu, ibu tidak pernah menerima uang pemberian dari orangtua  mereka sebagai  bisyaroh selama belajar bersama ayah dan ibu.
Pada kesempatan lain, aku mencoba memberi oleh-oleh tanah jawa berupa mengajarkan sholawat al-barjanzen yang menjadi rutinanku bersama remaja.  Dengan bangga kuperkenalkan budaya jawa yang membuat islam di jawa sangat kuat  ikatan persaudaraannya. Antusias anak-anak untuk belajar  berjanzen membuatku bersemangat dalam mengajarinya. Malam-malamku disana kuhabiskan dengan  mengajarkan membaca al quran dan bersholawat dengan buku al barjanzen.
***
 Dua hari sebelum lebaran sahabat ayah  datang ke rumah untuk mengajak  ayah catur. Ketika itu aku dikenalkan dengannya oleh ibu.  Sambil menunggu kedatangan ayah, aku dan ibu berbincang-bincang dengannya.  Saat itu juga kumengetahui dari mulut orang lain kalau aku ternyata memiliki saudara tiri.  Aku berusaha tenang tapi tidak tidak untuk hatiku.  Perasaanku membuat mataku  hujan deras karena fakta yang  baru saja kutemukan.  Sikap ayah yang  selama ini jarang menanyakan  kondisiku membuatku berprasangka buruk kalau ayah lebih sayang dengan anak-anaknya yang di Malaysia. Semenjak itu juga sifatku yang sedikit keras kepala semakin parah dan membuatku tidak dengan mudah mempercayai kata kata orang. Aku   menjadi pendiam dan  murung. Hari pertama lebaran lebaran disana adalah bersilahturahmi dengan keluarga.  Aku dihibur dengan silahturahmi keluarga Atu’[19] Ihsan. Atuk ini adalah orangtua angkat Ayah sejak ayah merantau di Malaysia. Aku diperkenalkan dengan orang-orang yang sempat mengenalku sejak kecil. Kegiatan lebaran hari pertama ini cukup menghiburku dengan melupakan  sejenak tentang rahasia keluarga yang  baru kutemukan. Ketika aku  bersaliman dengan teman kecilku, aku mengulurkan tangan untuk bersaliman.  Mereka hanya mengatungkan tangan tanda tidak boleh menyentuh ketika bersaliman dengan lawan jenis.  Tradisi ini  bertujuan agar tidak ada syahwat ketika bersalaman.  Kebudayaan islam yang begitu kental membuat saya beradaptasi dengan   perbedaan islam yang kukenal.  Islam kejawen yang kukenal selama di Ponorogo membuat jiwaku masih melakukan hal-hal yang  biasa seperti bersalaman dengan lawan jenis. Di jawa bersalaman tidak menjadi permasalahan besar. Karena menurut islam jawa bersalaman dengan menempel diantara dua tangan  boleh saja asalakan tidak ada niat syahwat.  Jadi  di jwa itu sangat menjunjung penyataan semua pekerjaan sesuai dengan niat.  Berbagai makanan kecil tertata di kampung rumah atuk.  Setelah aku dan keluarga duduk keluarlah makanan  masakan melayu dari arah dapur. Kita diminta untuk merasakan masakan Mak Yang dengan kuah kuning yang dinamakan   ayam pedas.  Kebiasaan disana ketika bertamu di rumah adalah menyajikan dua macam makanan yaitu makanan  kecil dan buah-buahan serta masakan prasamanan. Setelah para tamu menikmati yang disajikan para tamu berpamiatan pulang.   Aku yang biasa berlebaran dijawa hanya menemukan snack yang berjajar di meja dan berpamitan dengan bahasa jawa  sempat kaget ketika aku diminta untuk makan.
Ketika jadwal barak datang, aki diajak ibu untuk membaur  dengan teangga lewat mengikuti kegiatan mbarak atau sering disebut sambung silaturahmi waktu lebaran. Kegiatan ini biasa kuikuti  dengan pemuda-pemuda remaja masjid pada hari pertama sampai ketiga. Selama mbarak kutemui hidangan aneka jajanan Malaysia tertata di meja dilengkapi dengan berbagai  hidangan dan minuman.  Gambaranku mulai terbang jauh dengan  sebuah hari raya yang berkumpul dari salah satu rumah jamaah dan makan-makan sambil minum seperti jamahan  biasanya. Ternyata kita mengadakan sholawat singkat dan mendoakan tuan rumah kemudian menjamah[20] hidangan yang disediakan oleh pemilik rumah.  Kebudayaan ini  memutar otakku kedua kalinya ketika tidak waktu berhenti dari pagi sampai sore pukul 4. Selesai itu, aku disibukkan dengan melayani  tamu-tamu ayah yang begitu banyak. Sebagai tua rumah harus memberikan uang seringgit sebagai perayaan hari raya kepada setiap anak kecil disana.  Orang melayu tidak mengenal adab bertamu layaknya orang jawa. Sampai waktu pukul satu malam  kutemui tamu ayah yang masih belum berpamitan.  Padahal  di rumahah Ponorogo pukul Sembilan malam sudah mejadi tradisi untuk menutup pintu sebagai pertanda waktu istirahat malam.
Profesi ayah sebagai toke[21] pekerja TKI menambah  ceritaku tentang betapa kerasnya kehidupan orang Indonesia sebagai pahlawan migran.  Bayanganku tentang hidup di luar negeri lebih enak ditimbang di jawa adalah salah besar. Sejak  itu aku mulai meringankan beban ayah dengan  mencari kerja part time  selama kuliah.
***
Di hari ketujuh lebaran, aku memutuskan untuk kembali ke Ponorogo dan meneruskan rutinitas kuliah  dan aktif di desa.   Kebudayaan dan tradisi di Malaysia mulai  kuhilangkan karena dianggap  tidak sopan jika aku tetap memakainya. Tetapi  lidah tak bisa berkata  lain jika harus meninggalkan  kebudayaan yang mulai melekat  dalam diri.  Aku mulai  mulai mengaji kembali ke rumah bunyai dan membantu mengajari adik-adik dalam belajar membacanya.  Amanah  dari sang pakpuh membuatku kembali ke tempat tersebut.
Dengan zaman yang modern, aku mengajak mereka untuk menggunakan gadget[22] mereka sebagai pembantu dalam belajarnya.  Kuselipkan setiap permainan yang kubuat dengan butir-butir ilmu yang mudah. Aku memuptuskan untuk berhenti mengajar di TPQ di seberang desa dan mengahbiskan waktu di desa.  Aku mulai memotivasi mereka untuk sellau berpartisipasi dalam kegiatan desa deng  membentuk tarian Islami dengan mengakulturasikab budaya yang ada dengan  yang ada di internet.  Mulai ramai kembali dengan rutinitas banjazi dan sholawat bersama yang dilakukan setiap malam.  Suasana santri yang dulu sempat hilang kembali lagi dengan penuh kegiatan santri yang ada.  Aku kembali dengan sejutan pengalaman kehidupan yang pernah kulalui.   Kukembangkan potensi yang  adik-adik miliki dengan membuka wahana yang luas  dengan sifat modern berlandaskan Islami. Santri bukan seseorang yang berpendididikan di Pondok pesantren melainkan orang yang melakukan  seperti santri itu adalah yang dinamakan santri yang sesungguhnya. Aku memang tak pernah tidur lama di  asrama pondok. Aku pun tak pernah merasakan  menjadi santri yang sebenarnya. Hanya saja aku mempunyai cita-cinta kecil untuk membagi pengalamanku ke adik-adik di desaku dengan caraku  yang berbeda.Modern membuat Islam tetap maju meskipun berada di  daerah perbatasan seperti di desaku.  Caraku membuat adik-adik nyaman dan semangat untuk terus belajar.  Dengan kesederhanaan yang mereka punya membuatku semangat  medidiknya dengan segala pluralisme kebudayaan Islam yang pernah kelalui.  
 Dengan psikografis yang masih sama seperti dulu. Masyarakat belum mengetahui bentuk kemodern Islam masa kini. Mereka yang masih keukeuh[23] dengan ilmu-imu agama  berlandaskan islam zaman dahulu. Yang masih kental dengan kegiatan pada masa para wali yaitu diadakannya slametan, genduren,  peringatan setelah kematian seseorang bahkan pemberian sesajen ketika  seseorang mengadakan hajatan.  Aku sempat menyerah menakhlukkan anggapan mereka tentang sisi negatif  sifat modern.  Tapi jika aku menyerah tidak warna- warni yang muncul ditengah masyarakat yang dulu penuh dengan kegiatan ala santri  dari berbagai pondok.  Aku mulai melakukan pendekatan dengan Allah agar semua hubungan dengan makhluknya lancar.  Hanan Attaki[24] dalam ceramahnya mengatakan untuk mengambil hati makhluk-Nya maka harus meminta kepada Allah.Untuk itu aku mulai mengecas imanku untuk menentramkan jiwa yang sedang penuh problematika dalam proses menyalurkan ilmu. Aku mencoba tetap teguh dengan caraku membagi ilmu  yang bercampur modern.  Al-Quran pun menjelaskan untuk melakukan apapun yang penting tidak  ada yang melarang. Cak Nun[25] menegaskan untuk melakukan apa saja asalkan tidak melanggar syariatnya. Aku  dengan  tekad bulat tetap melakukan apa yang kusuka  selama menemani adik-adik dalam berproses.
Pada akhirnya perkembangan potensi anak-anak seperti sebuah lampu  yang akan menyala lebih terang jika  tegangan listrik yang dimilikinya sangat besar dalam untuk  mendapatkan sense[26] dari  penerangan tersebut. Begitu juga  untuk  mendapatkan potensi yang baik dalam diri anak perlu motivasi dan semangat  dalam proses belajarnya.  Aku tak pernah mengubah kebiasaan belajar mereka yang sudah menjadi identitas tradisi di desaku ini. Dengan menambahkan  kebudayaan yang baru akan menjadikan daya tarik tersendiri dalam melestarikan kebudayaan yang sudah dikenal sejak lama.  Desa  tersebut tetap menjadi desa santri dengan segala bentuk kegiatan yang menjadikan icon di luar desa dan dikolaborasikan dengan kegiatan Islam masa kini yang cocok dengan tradisi Islam yang ada.



[1]Mak dalam bahasa melayu berarti Ibu.
[2]Bulik adalah berasal dari ibu cilik. Sebutan ini diberikan kepada seseorang yang berkedudukan  adik dari ayah ataupun ibu.
[3] Pak puh adalah sebutan atau panggilan dari bahasa jawa untuk kakak laki-laki dari ibuatau ayah.
[4]  Budhe adalah  sebutan  atau panggilan dari bahasa jawa untuk kakak perempuan dari ibu atau ayah.
[5]  Ngalap barokah adalah mencari berkah.
[6] Mahfudzat adalah mata pelajaran tentang kata-kata mutiara  dalam bahasa Arab
[7] Ndeso adalah kata yang diberikan kepada seseorang yang kurang update tentang apa yang ada di sekitarnya.
[8] Gontori adalah nilai-nilai pendidikan pondok modern gontor
[9] Sorogan adalah  belajar mengaji secara bergilir.
[10] Panca jiwa adalah   lima poin yang harus tertanam dalam diri.
[11] Jaros adalah sebutan lonceng pengingat  waktu di pondok.
[12]  Prabon adalah  sebutan rumah besar di jawa
[13] Anggukan adalah sebutan tarian islami
[14]  Mbak adalah sebutan kakak  perempuan
[15] Tegalan adalah lahan kosong yang ada di tengah rumah penduduk.
[16] Toriqotan adalah jalan mendekatkan diri kepada  Tuhan ( Allah Swt)
[17] Anggukan adalah sebutan tarian Islami
[18]  Selapanan adalah kegiatan yang dilakukan sebagai peringatan   berumur dua bulan setelah kelahirannya. Dalam kegiatan ini seorang untuk menaiki tangga dari pohon tebu dan dimandikan dengan air  bunga.
[19] Atu’ adalah bahasa melayu yang digunakan untuk sebutan kakek
[20] Menjamah adalah  memakan atau merasakan makanan
[21]  Toke adalah bos besar
[22] Gadget adalah bahasa inggris dari alat pencari informasi. Seperti handphone dan  tablet
[23] Keeukeuh adalah teguh pendirian
[24] Hannan Attaki adalah Ustadz  lulusan Al azhar Kairo yang berdakwah lewat  media sosial.
[25] Caknun adalah Emha ainun Najib pemikir Islam dan pendakwaah yang berasala dari Jombang jawa timur.  Beliau terkenal dengan perumpaan kebudayaan islam di Jawa yang  khas  dengan  tradisinya.
[26] Sense adalah  kegunaan
www.ceritasantri.com

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

2025: Di Akhir Cerita Penuh Kata ─ Ngunduh Wohing Pakerti

Cara Membuat Batik Tulis

Mekar Merunduk