UNEG-UNEG: Jadi Anak Tunggal, Katanya Sih Beban yang Dipikul Semakin Ringan?



Menjadi anak tunggal ─ sebuah pernyataan yang berujung pada bagaimana soal kehidupnya. Apalagi bagi seorang perempuan yang menjadi anak tunggal adalah sebuah tantang yang sangat tepat. Dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan dan harus  menjaga prabon adalah  menjadi alasan utama harus tidak meninggalkan rumah asal perempuan tersebut.  Prabon merupakan sebutan dari  bahasa jawa untuk rumah yang dihuni oleh keluarga besar.

Pandangan orang jawa adalah perempuan harus manut pada laki-laki. Sedangkan alasan-alasan diatas menjadikan sebuah alasan yang kuat untuk tidak meninggalkan kampung halaman, meninggalkan kedua orangtuanya, bahkan belum lagi dtambah alasan-alasan seperti wasiat dari anggota keluarga lainnya. Semakin berat ya, untuk tetap menjadi perempuan jawa yang manut, kalem dan ikut suami bagi perempuan status anak tunggal.

Pertanyaan kapan menikah adalah trending topik  bagi anak Tunggal yang semakin bertambah umur semakin  terbatas juga  situs  pertemanan.  Miris sih iya dikata jadi perawan yang tidak laku dikarenakan dengan pertimbangan-pertimbangan untuk  bersedia dipinang orang lain. Kata orang jawa berlaku prihatin akan mendekatkan diri untuk apa yang kita  butuhkan. Dengan laku prihatin kehidupan ini akan tertata. Hanya saja lebih sederhanannya pandangan perempuan jawa bisa distel lemah atau wanita yang mau berjuang. Sedih sih iya kalau dikata untuk menjadi wanita jawa tulen dengan segala keadaan yang perlu dipertimbangkan pada  setiap  jejak. Tapi, ya bagaimana katanya selama kamu masih berdiri di tanah jawa pandangan itu masih kental meskipun kamu tidak mempercayainya.

 Keputusan. Katanya sih, dalam memutuskan juga harus mempertimbangkan, mengingat serta memikirkan resiko yang akan terjadi. Begitu pula tanggung jawab terbesar ketika kehidupan seseorang masih belum tertata jelas. Iya, untuk menjadikan pembelajaran yang sangat berharga adalah ketika kita membuat keputusan dan itu tidak sesuai dengan prediksi kita.  Indah sekali ketika keputusan itu tepat  setelah kita melihat efeknya.   Pasti semua ingin bisa melakukan keputusan tersebut.  Apalagi keputusan terkait siapa yang akan mendampingi bagi permepuan yang berstatus anak tunggal. Banyak pertimbangan yang perlu dibahas matang mulai dari bagaimana kehidupan selanjutnya, hidup dimana bahkan bagaimana soal pekerjaannya. Apalagi seorang wanita karir, tulen dan anak tunggal.   Jelaslah, jika semua dipertimbangkan lebih dulu untuk menerima seseorang yang  akan menemaninya seumur hidupnya.

            Sareh lan sumeleh yang artinya semua diserahkan kepada Allah dengan ikhlas yang penting sudah berusaha. Dengan pertimbangan dalam segala bidang pasti akan ada  tanggung jawab yang harus dipikul  untuk kedepannya. Disisi lain, ya juga melihat ketika surga berpindah maka semuanya akan dipertimbangkan juga baik keberlangsungan sampai pada kekhawatiran yang akan muncul nantinya. Ya, bisa jadi nanti akan menjadi konflik keluarga yang berkelanjutan atau bahkan perpisahan karena merasa  keberatan atas beban yang akan dipikul tidak imbang satu sama lain.

            Heranya, pertarungan  antara asumsi dan  pandangan Jawa mejadikan  pandangan perempuan berstatus tunggal semakin beresiko besar. Bisa dip Katanya anak perempuan berstatus tunggal akan sulit memilih seorang suami dengan  pertimbangan  dari pandangan bahwa ”Istri harus mengikuti suami”. Sedangkan seorang laki-laki akan mempertimbangkan hal tersebut jika dia memiliki hubungan dengan perempuan yang berstatus anak tunggal.

            Kaget sih iya, jika hal ini akan terus berkelanjutan tak berujung. Jadi tantangan tersendiri kan menjadi  perempuan  berstatus anak tunggal. Bahkan apakah mungkin kamu yang berstatus tunggal akan mendapatkan  teman hidup secepatnya sama seperti  yang lainnya.

Kehidupan yang pas-pasan menjadikan banyak pelajaran bagi perempuan yang berstatus anak tunggal. Ya, kali ini menjadikan pembelajaran banyak untuk perempuan yang masih tetap menjadi tulang punggung.  Sebagian dari mereka percaya juga sih kalau keberkahan akan selalu mengiri.  Karena ridho  orangtua  adalah ridho  Allah. Ya, saya sih mempercayai akan hal itu.  Karena tulang punggung buat hal yang merasa berat kok jika semaunya akan dilakukan dengan ikhlas.

            Pasti lah,  sepasang  suami istri yang masih baru memiliki  target dan mimpi-mimpi untuk menjadi keluarga bahagia. Bukannya semua  sudah tertakar dan tak akan tertukar. Iya, semua tidak akan tertukar. Keadaan yang akan menjawab dengan tetap mengiri rasa legowo─menerima takdir dengan lapang dada.  Tuhan tidak pernah tidur dan tak pernah tuli kok dengan apa yang kita mohon.   Yang aku  hampir tidak habis pikir sih, masih ada laki-laki yang mau menerima untuk bersanding dengan perempuan berstatus anak tunggal seperti yang telah dijelaskan diatas(?). Padahal, semakin ikhlas semakin lunas bukan semakin memelas.  Begitulah realitanya, perempuan bersatus anak tunggal dengan segala kepercayaan dan pertimbangan yang harus diterima versi orang Jawa. Semua  sudah tergariskan  sehingga kita akan mudah menjalaninya. Percaya aja.

 

  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2025: Di Akhir Cerita Penuh Kata ─ Ngunduh Wohing Pakerti

Cara Membuat Batik Tulis

Mekar Merunduk