Pertama Aku Mengenalmu
Dan....
Sajak-sajak itu mulai tumbuh kembali ketika saya bertemu dengan guru saya yang bernama Bu Heni Hastutik. Beliau mengenalkan nilai-nilai kehidupan dengan sepenuh hati. Teringat sekali beliau menyampaikan sebagian kecil dari cerita kehidupannya hingga saya dan teman-teman meneteskan air mata. Jiwa-jiwaku mendrama naik sejak saya bertemu temen di kelas 10 A.Kelas dengan berpenghuni anak-anak dengan ribuan tingkah. Sampai kita membuat drama kecil yang masih bergeleng geleng tidak percaya atas aksi kita. Sampai ketika saya beranjak di kelas 3, kami terpisah kelas. Saat itu, saya menemukan teman baru yang se karakter denganku. Dia ada Riska. Riska membuatku terkesimak dengan hasil cerpennya yang romantis. Sejak saat itu saya mulai bercerita. Saya tuliskan semua kisahku dalam laptopku dan kuceritakan dalam drive ku.
Ketika saya kuliah, saya masih dengan dunia tulisku. Hingga saya lebih ingin suka menulis sebuah berita. Rasa ingintahuku memuncak saat suasana panas mulai mengobar di kampus. Saat itu saya ikut lembaga pers kampus. Sayang sekali, target rencana menjadi kunci untuk mencari pengalaman sebanyak mungkin. Akhirnya setelah 1 tahun berlalu, saya memutuskan untuk aktif dalam organisasi lingkungan masyarakat. Rasa menulisku menurun. Hingga waktu pengabdian itu datang. Syukur sekali, saya dipertemukan seorang mas dosen yang benar-benar favorit pada zamannya. Seorang penulis, muda dan inspirator hebat. Saat itu saya menjadi salah satu mahasiswa yang cukup aktif dalam mempertanyakan program, menulis sampai bagaimana cara mengajukan ke kemenag saat itu. Saat itu juga, jiwaku menulis kembali. Hingga suatu hari saya menemukan penerbit yang sedang mengadakan sayembara menulis di kampus. penerbit itu adalah Mizan. Beberapa bukunya sudah meracuni ku untuk ingin pergi kesana. Sama seperti judul buku "Berkelana ke Timur Tengah". Seingatku saya, saya hampir membacanya 10x. Dan akhirnya saya lolos 25 besar penulis sayembara Mizan tersebut dengan keinginan ini ada nama saya di Mizan, penerbit favorit. Sejak saat itu, sambil menulis autobiografi, saya menulis sebuah cerita kehidupanku saat itu. Saat itu pula saya dipertemukan dengan dosen penguji yang juga penulis juga. Jiwaku meronta ronta untuk ingin seperti mereka. Dalam proses menulis selalu ada bimbingan dari mereka. Hingga pada akhirnya saya dititik ini, titik dimana saya suka dengan hobiku iku ini. Yang tidak pernah mengatakan bosan dalam prosesnya. Mengalir seperti air. Membungkam kan setiap ada yang merendahkan. Maaf, terlalu indah untuk dilupakan semua itu. Trimakasih semua yang telah mengenalkanku atas indahnya sastra.
Teruntuk Ibu Heni Hastutik
Bapak Lukman Santoso
Bapak Ahmadi
Senior Al-millah
Teman-teman
Komentar
Posting Komentar