Drama Mosi Tidak Percaya
Drama Mosi Tidak Percaya
Menyambung
ceritaku menyambut covid beberapa bulan lalu dnegan istilah win win solution. Hal itu menjadi
terlihat signifikan , terutama dalam perekonomian. Banyak fakta yang membuat
tercengang di tengah pandemi karena banyaknya
perubahan yang harus diikutkan atas disrupsi yang terjadi. Lagi-lagi,
bentuk program pemerintah banyak yang salah sasaran terulang
kembali dan berkali-kali. Alhasil, yang
kaya semakin kaya, anggaran memotong anggaran lain sampai hutang negara ke bank dunia terpaksa harus didengar oleh
masyarakat. Melihat peraturan itu dibuat dari rakyak, oleh rakyat dan untuk
rakyat , apakah hal tersebut sudah sesuai dengan tataran masing-masing?. Ini,
bukan menyalahkan pihak-pihak tertentu,
melainkan bagaimana cara menuturkan keadilan
dimana masyarakat semakin merasa dimanusiakan oleh kaum yang berkuasa. Untuk
mendapatkan sebuah keadilan, sekarang hanya terlihat dari bagaimana pemerintah
melirik dari sisi materi. Yah, tetap saja ya yang berkuasa.
Sekilah
saya bertanya langsung bertanya kepada
teman saya apakah mosi tidak percaya akan muncul kembali dengan keadaan di tengah pandemi yang membuat rakyat miskin
semakin menekik. Selama pandemi ini saya
menemukan dua ibu-ibu yang tiba-tiba
menghampiri saya ketika saya di pusat kota. Saat itu, saya sedang sakit perut
hebat dan berhenti di pinggiran jalan. Ibu-ibu dengan membawa bungkusan nasi
menawarkan kepada saya. Saya sempat kaget sekali dengan harga yang pertama ia
tawarkan. Dengan wajahku yang menahan
sakit kutanyakan alamat rumahnya. Ternyata rumah tak jauh dari tempatku duduk. Dia terpaksa memberi harga tinggi karena
banyak hal yang sangat perlu dia penuhi
sebagai tulangpunggung keluarga. Di hari yang lain, saat itu saya sedang di
tempat parkiran, dengan wajah bermasker saya
dihampiri ibu-ibu penjual krupuk. Efek karena musim pademi, dia
bela-belain untuk ke kota mencari uang dengan menjual krupuk. Dua kejadian itu menjadi bukti yang nyata bahwa berbagai bantuan ditengah pandemic
benar-benar salah sasaran.
Dari
hasil pengamatan, politisasi semakin meninggi dengan adminsitrasi yang harus
saya sampaikan sedikit “mbulet” karena keadaan pandemi ini. Mulai dari,
perizinan acara, berpergian sampai acara pemilu yang semkin hari semakin
tidak mempunyai ujung. Merah, kuning,
hijau, hitam. Itu adalah symbol warna
untuk wilayah tentang covid. Warna tersebut akan berubah jika pemerintan akan
memiliki misi. Hingga akhirnya muncullah hunter-hunter
yang katanya menangkan para pelanggar kesehatan. Pertanyaanya kok pemerintah
tidak melakukan hal yang sama unutk melakukan protokol kesehatan yang
seharusnya dilakukan.
Mungkin
ini adalah catatan evaluasi yang cukup banyak ketika masa inflasi zaman dahulu kemungkinan akan terulang
kembali, krisi moneter akan terulang kembali atau bahkan nepotisme dan korupsi semakin mejadi. Kita sebagai pengamat, hanya bisa melihat rencana apa yang perlu kita
perbuat untuk menyelamatkan yang sangat
perlu diselamatkan.
Submit to news media in order to many people can read your creation.
BalasHapus