Kebudayaan Melayu
Kebudayaan
Melayu
First
Time I Met Them
Taman Rona, Batu Pahat,
Johor,
2015




Ini adalah postinganku yang perlu dkenang
dalam tulisan. Ya, inilah ceritaku di Negeri Jiran. Negeri yang penuh misteri,
kejutan dan kebahagiaan. Negeri penuh
rahasia tentang jati diriku sebenarnya.
Ya pertama kali aku berangkat kesana dengan penuh drama. Ingin merasakan keluarga
yang seutuhnya. Ya, maklumlah bayangin coba hidup seakan jarang banget dapat
kasih saying secara langsung dari orangtua. Finally, yeah, I do the moment I
want. Pada tahun 2016 aku berangkat ke Malaysia dengan ibuku yang tiba-tiba
dating ke Indonesia karena saat itu aku mengalami kecalakaan. Ya makanya aku
merasakan drama banget saat itu.
Lebaran tahun 2016,
lebaran pertama di Malaysia. Aku berangkat dari Malaysia membawa oleh-oleh khas
Indonesia mulai dari rempah-rempah Indonesia sampai sayuran khas Indonesia.
Tepat pukul 9.00 pagi kami berangkat dari bandara juanda.
Perjalanan menghabiskan waktu 2 jam.
First time, I feel
worry the condition had met in the airplane. Saat itu saya duduk di seat yang dekat dengan
baling-baling pesawat. Disana aku duduk
berdampingan. Samping kiriku adalah ibuku dan dan samping kananku adalah
orang lain. Saat itu saya membawa bekal novel MIzan dengan Judul Berkelana ke
Timur Tengah. Aku sok-sokan membuka meja dan membaca novel. Saat itu, kedua orang
dismapingku sudah tidur nyenyak. Ketika pesawat lion itu mau take off, suara
baling-baling pesawat itu membuat kuping ku
mau pecah. Sampai aku kebingungan sekali
apa yang harus kuperbuat agar tidak sakit lagi. Akhirnya aku menangis sendiri karena tidka
kuat dengungan sembuat kupingku mau tuli. Ya maklum lah pertama kali aku naik
pesawat. Norak sikilah tak ape.wkwkwk.
Kami mendarat di
Bandaran Hang Nadiem Batam pada pukul 11.00.
kami istirahat sebentar sambil mengeceka barang bawaan yang kami bawa di
depan bandara. Pukul 12.00 kita berangkat ke pelabuhan batam untuk menyeberang
ke Johor.
Aku bisa menikmati suasana ditengah laut
selama 2 jam. Okelah aku merasakan
mabuk laut karena saat itu aku dudu di
dek bawah sendiri. Jadi terasa goyangan
karena ombak laut. Sampai di padang pasir eh maksudku pelabuhan pasir
gudang aku dijemput oleh bapakku. Yah begitulah keluarga LDR sepanjang idup
ketemu ayah aja nggak se euphoria seperti biasa lama gk ketemu. Aku hanya
menyapa dan bersalaman. Kemudian masuk mobil.
Sepanjang perjalananpun aku hanya melihat pemandangan diluar mobil dengan
suasana yang berbeda. Sampai di rumah aku
tersenyum bahagia. Ya inilah rumahku yang kudengarkan dan kugambarkan dari cerita orang-orang yang
pernah melihat rumahku ini. Ya inilah rumahku. Tapi masih banyak rahasia yang harus kubongkar.
Ya, disini aku
merasakan kerja dengan ibu dan mendapatkan uang banyak selama disana. Kemudian
aku juga tahu kebudayaan sedikit-sedikit mulai dari cara hand shaking disana,
kemudian, habits mereka, attitude mereka.
Banyak perbedaan sih. Aku Indonesia makannya aku tetap menggunakan
segala kebudaayaan yang melekat dalam diriku.
Disana aku bertemu anak-anak yang mengaji di rumah. Aku bertemu beberapa
pesarah yang ibu kenal. Aku bertemu
dengan bapak teman-teman bapak seperti Cik sam, cik Nagong, dan encik2 yang ada di surau.
Oke, kali ini aku mau
menceritakan tentang cross-cultural yang sempat saya temui disana. Saya disana
melakukan sholat di surau biasa bapak qiro disana. Bapakku adalah seorang
muadzin dan qori disana. Saya merasa bangga punya bapak seperti beliau karena
bisa mengharumkan budaya Indonesia di
Negara lain. Ternyata ketika bulan puasa. Setiap surau mempunyai tenpat untuk
buka bersama. Nah kalau di Indonesia aku mendapat sebungkung atau satu tempat
pelastrin. Aku disana mengambil sendiri sepuasnya yang di letakkan di buffey. Aku malu-malu mengambilnya
dan bapak selalu mengingatkanku jangan
dikit-dikit malu jangan dikiri senyum disini bahaya. Ya, namanya udah melekat gimana
lagi ya aku tetap ngelakuin. Makanan
khas yang sering aku temui adalah nasi lemak, karipap, ais mata kuceng. Saya
sempat penasaran dengan mata kucing yang disebut-sebut itu. Ternyata mata
kucing itu adalah kelengkeng. Kemudian aku melakukan sholat tarawih di surau
itu. Aku meletakkan sandalku di depan masjid. Ditanyalah dengan orang negro
disana “ anak ayah?”. “ yes, he is my dad”.
Kemudian dia mengangguk angguk dan menghampiri bapak yang sedang
bercakap-cakap. Setelah melakukan sholat
tarawih. Aku diajak ayah pulang ke rumah dan mempersiapkan untuk lebaran yang
kurang 4 hari lagi. Mulai dari
goring-krupuk, kripik, belanja buah dan jalan-jalan di pasar malam pastinya.
Sejak saat itu waktu istirahatku sangat kacau sampai sekarang. Bagaimana biasa
aku jalan-jalan bersama bapak pukul 2 malam. Asik banget karena ada yang njagain
sebelum dijagain sama pujaan hati. Tapi pujaan harinya nggk tahu dimana dan
kemana.
Hari kedua ketika aku disana adalah mendapat
kejutan dari cik Nagong. Ya, kayaknya gk perlu dijelaskan disini hehe. Kejutan yang bikin saya sempat terkejut tapi
juga senang dan bahagia. Dan itu adalah pertanyaanku selama ini. Agak kecewanya sih kok dapat kejutannya gk
dari bapak sendiri ya. Untung ada ibu yang bisa ngademin aku setelah dikasih
kejutan itu.
Setiap malam aku mendengarkan kontes catur bapak dan kawan-kawan.
Bapak sering memintaku untuk memijitinnya dan kemudian dibelikannya humberger
di bagian depan sana untukku setelah selesai memijitin. Ibu selalu menceritakan
masa kecilku selama di Malaysia. Ah indah sekali kunikmati. Rasanya aku pingin
nggak balik ke Indonesia.
Malam menjelang hari lebaran.
Aku sempat menangis
hebat karena biasnaya aku menghabiskan waktu untuk membersihkan masjid dan
mempersiapkan takbir keliling dengan anak-anak sedangkan aku disana mempersiapkan masakan untuk hari pertama
lebaran. Dan di hari pertama apa yang
aku lihat?. Well yang biasa aku lihat ramai sekali banyak orang yang membarak.
Tapi hanya ada orang-orang yang bersilahturahmi di rumah kakek nenek, orangtua
ataupun kerabat lainnya. Disana aku sempat kaget ketika ada orang0orang Indonesia yang dianggap saudara oleh
keluargaku. Karena apa? Banyak dari mereka sudah bercampur budaya dengan
disana. Kebudayaan sopan santun andap
ashor selalu dijaga kalau disana ampun deh kudu kuat ngelus dhodho
Tepat hari kedua aku dan ibuku membuat
bakso ala Indonesia. Sempat kaget sih
karena aku berasa masak di tempat orang
mantu. Wkwkwk. Banyak kelompok barakan yang hamper 300 saya
temui. Bakso yang saya buat habis
bahkan ada yang ambil lagi di rumah setelah barakan.
Oh bentuk barakan disana itu seperti itu ya.
Mulai dari sholawat bersama kemudian berdoa dan diakhiri dengan makan makan
prasamanan. Dengan begitu aku bisa merasakan masakan ala Malaysia ddengan
gratis di setiap rumah.
Ini adalah ceritaku Melayu.
Trimkasih keluarga kecilku
bapak mama.
Terimakasih orang
Indonesia yang sedang dalam perantauan
Terimakasih tetangga
yang ada disana
Hopefully, I will meet
soon…..

My mom my
home
Komentar
Posting Komentar